Lembaran persembahan. Proposal
lembaran persembahan seorang mahasiswa
Sebetulnya beta tak tahu bagaimana cara membuka mulut di depan ayah dan ibu, mengeluh semuanya sendirian diantara hiruk piuk satu tahapan yang datang. Ya, memang terlahir dari keluarga pas-pasan, membuat beta sering mengeluh dengan keadaan, Melihat teman-teman seangkatan bergegas pergi melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. begitulah semenjak ayah hanya bisa membiayai satu anaknya di antara beta dan kakak, sebagai mana ayah harus menjatuhkan keringat begitu derasnya mencangkul di kebun, dan melawan segitnya mentari siang bolong ayah memikul kopra yang begitu jauh. beta masih ingat dengan kata ini. Ayah pu bahu ini bisa memikul satu karung kopra saja, tidak bisa dua, kalau di paksakan bahu ayah bisa pata, Itu sama halnya dengan kamong dua adik kaka Ulu! jadi tahan-tahan hati saja pada waktunya kamu juga bisa merasakan kuliah.
Empat tahun akan terbuang menjadi gelar sarjana, andaikan saja beta diberikan waktu untuk membicarakan sesalku maka percuma belajar yang giat semasa SMA dengan peringkat murid teladan, dan lain-lain itu. Dari situ dendam yang mulai membatu itu Beta selalu membanding-bandingkan diri dengan kakak, ini dan itu. namun keadaan mulai cepat berubah, sampai saat beta di penghujung perkulihaan beta ingin sampaikan pada kakak andaikan kaka tahu isi hati beta ingin menagis di bahu kaka, menyesali semua perlakuan beta, dengan sendirinya melihat semua yang abang lakukan itu mewarisi sifat ayah kita. beta tidak seperti abang! tegar dalam setiap situasi, memberi kepada yang membutukan dan bertagungjawab pada keluarga.
Tahap demi tahap mungkin sudah beta lalui, tak terlepas dari nama ibu, wanita malhen dari rantau. yang rela melihat anaknya bahagia dari pada membeli satu gaung. Beta mungkin tidak banyak menulis tentang ibu, sebagai ucapan terimakasih beta sebab air mata ini tidak bisa bertahan lama pada tempatnya. Doa dan harapan semoganya sifat-sifat dan keteladanmu turun pada calon anak mantumu. Semoga Allah SWT melindungi kalian dunia Akhirat.
Lagian hal yang menjamur di negeri ini, apa bila datang momentum lulusan paska sarjana mudah adalah syukuran wisuda atau acara wisudah. hal ini yang menjadi populer di kalangan masrayat rumpun kei.
Beta mau bilang di bapak ibu ketika perjuangan berat itu beta tidak mengharapkan hajatan yang megah. melihat bapak ibu telah bertarung nyawa demi megumpulkan pundi-pundi rejeki Allah swt, kadang muka bapak ibu di gadaikan akan uang pinjaman. maka beta tidak mau memaksakan diri terlihat bahagia yang palsu. bahagia yang terlalu semu itu.
Bila pohon kelapa di kampong mendorong beta di mata pendidikan indonesia, bapak terpaksa tidak hadir dalam momentun kebahagian ini, di titik ini empat tahun bapak berjuan, beta persembakan comlaude ini untuk petani kopra di desa ohoiwait.
Dan mungkin menjadi contoh bapak ibu. jika sarjana adalah tujuan anakmu meminta uang di tiap pagi, sore dan malam. beta tidak mau lagi meminta untuk membuat syukuran karena syukur sesunggunya ada panjatan doa terima kasih Allah SWT telah memilih anakmu dalam golongan orang-orang yang di ambil derajatnya.
#rekam_jejak_putra_petani_kopra

Komentar