DESA OHOIWAIT
Cerita singkat desa ohoiwait
Semenjak lama beta kembali meginjakan kaki di tanah ini. kampung yang mengajarkan hidup dalam kesederhaan, kampong dimana menyimpan kenangan semasa kecil dulu. Ya, kampong kelahiran beta.
dikampung ini memiliki dua dusun. yaitu mataholat dan wetuar yang terletak di sebelah barat kei besar tengga kabupatan maluku tengara, Sementara kampung induknya di kenal dengan sebutan Ohoiwait. Dari lahan yang luas kampong itu, sejauh mata memandang tumbuh pepohonan di antarnya pohon kelapa lebih mendobinasi dari pepohonan yang lain.
dikampung ini memiliki dua dusun. yaitu mataholat dan wetuar yang terletak di sebelah barat kei besar tengga kabupatan maluku tengara, Sementara kampung induknya di kenal dengan sebutan Ohoiwait. Dari lahan yang luas kampong itu, sejauh mata memandang tumbuh pepohonan di antarnya pohon kelapa lebih mendobinasi dari pepohonan yang lain.
Nama kampung Ohoiwait di artikan sebetulnya menjadi kampung (baru) pada generasi sekarang. Ada yang menyebutnya sebagai (hidup) namun pada sejaranya dulu kampung itu dinamakan sebagai sumber kehidup nantinya.
ohoi umumnya ditanah kei mengartikan sebagai kampong atau desa tak ada kata lain dari ohoi untuk penyebutan kampung, sedangkan Wait adalah cikal bakal burung-burung mengupulkan makan di suatu tempat. Akan tepi kata-kata di kepulauan kei sangatlah terbatas, sulit pembedakan dialek masyaraka seperti Lek (kerah), dan Le'k (jatuh). Atau Faha (membeli) dan Vaha (kuah) wahan (muka) wahan (tepi tanjung) terdengar sama-sama ini yang membuat ada yang mendafsikan ohoiwait juga berbedah. seperti juga beragam dari kata. Wait, Whait, Fait, Vait dalam pengucapan.
Dahulu ketika tokoh pertama yang di kenal namanya vovod Melakukan perjalanan dari sebelah utara kei besar, menurut sumber di sana ada sebuah kejadian besar yaitu naga berontak. Kejadian itu sekaligus menandakan vovotd menuju Tungkor atau Tutrean saat ini. sedangkan penduduk lain berimigrasi dari sana menuju Elat. Kalau di bilang nama vovod atau mengandung arti (hanyut) hanya pemberian nama dari mel rahayaan ketika di panggil untuk singga di desa.
Saat itu kekuasaan mel rahayaan di berikan untuk vovod sebagai upaya bisa memberikan keturunan yang banyak, sebab ada tanda-tanda kehidupan yang membekas sekitar ohoi Der dan ohoi Sek.
ohoi umumnya ditanah kei mengartikan sebagai kampong atau desa tak ada kata lain dari ohoi untuk penyebutan kampung, sedangkan Wait adalah cikal bakal burung-burung mengupulkan makan di suatu tempat. Akan tepi kata-kata di kepulauan kei sangatlah terbatas, sulit pembedakan dialek masyaraka seperti Lek (kerah), dan Le'k (jatuh). Atau Faha (membeli) dan Vaha (kuah) wahan (muka) wahan (tepi tanjung) terdengar sama-sama ini yang membuat ada yang mendafsikan ohoiwait juga berbedah. seperti juga beragam dari kata. Wait, Whait, Fait, Vait dalam pengucapan.
Dahulu ketika tokoh pertama yang di kenal namanya vovod Melakukan perjalanan dari sebelah utara kei besar, menurut sumber di sana ada sebuah kejadian besar yaitu naga berontak. Kejadian itu sekaligus menandakan vovotd menuju Tungkor atau Tutrean saat ini. sedangkan penduduk lain berimigrasi dari sana menuju Elat. Kalau di bilang nama vovod atau mengandung arti (hanyut) hanya pemberian nama dari mel rahayaan ketika di panggil untuk singga di desa.
Saat itu kekuasaan mel rahayaan di berikan untuk vovod sebagai upaya bisa memberikan keturunan yang banyak, sebab ada tanda-tanda kehidupan yang membekas sekitar ohoi Der dan ohoi Sek.
Hampir sepulu tahun yang lalu kampong ini, lebih kurang satu kilometer dari rumah, beta biasa temukan sumber air yang masih sangat asli di pinggir hutan. Berkolam sekitaran empat persegi dengan kedalam satu sampai dua meter. Yang berasal dari bukit hutan yang lebat. bermuara pada kali yang memangjang kearah pantai. Tempat itu, biasa dipakai untuk mandi dan mencici pakaian, air yang berada itu sangat dingin layak keluar dari dalam kulkas. Warga kampong menyebutnya lokasi itu dengan wayar Kait.
Beberapa meter dari lokasi wayar kait tersebut. terdapat rumah, yang dibuat dari kayu Ing, tempat meletakan hasil komuditi petani, semacam kopra Akan tetapi rumah itu sudah rubuh tak membekas. Beberapa pohon kenari disamping bangunan itupun telah hilang, Hanya tinggal kenangan. Begitu ramai jenis burung Pombo, urip, kaka tus dengan berbagai warna yang suka ingkap. Dari mereka mengeluarkan suara-suara menghibur beta masih kecil, kini tidak pernah tampil di pohon-pohon itu lagi. Mereka pergi untuk selamanya sejalan dengan terobosan waktu yang datang.
Dari sekian kenangan yang masih utuh hanya beberapa pohon kelapa yang masih tumbuhan dibekalang rumah. Waktu itu, beta masih berusia delapan tahun, bersama teman-teman sering membuat hajata kecil-kecilaan. Kelapa itu di panjat, Buahnya di campur dengan susu agar lebih manis bila di minum.
Di depan rumah sederhana, tempat seberang jalan, ada sebuah rumah gubuk kecil yang di buat dari Atap diatasnya, dan papan sebagai didingnya. Tinggal seorang pria tua, Sering pergi dan kembali pria tua itu mempertarungkan manis pahitnya dunia. Sebab sejuta kenangan di simpan bersama keluarga, pria tua itu perna mengidamkan rumah mewah, hidup mapan bersama kedua putranya. Tapi itu kan dulu! Beta datang Dari arah jalan menuju pantai. Kampong ohoiwait Rumah-rumah istimewa berjejeran mengunakan asbes sebagai atap rumah.
Seperti kampong yang lain di daerah kei besar. Tuhan memberikan tanah yang subur. Hasil laut yang berlimpa rua. Lalu penduduk kampong ohoiwait tinggal memilih dari dua pilihan hidup itu saja. kalau bukan petani pasti nelayan juga. Kalau boleh di katakan pemikiran penduduk kampong ohoiwait juga cukup maju. Lantaran pria atau wanita yang berusia dua belas tahun keatas, setela lulus dari sekolah dasar SD nyaris tak ada di kampong. Mereka telah melajut sekolahnya di luar. Ada yang mengangap, hanya pendidikan yang menyelamatkan mereka dari keterpurukan hidup yang melarat.
Bersambung.
Promo. wajah literasi
Ingat ikuti yaa demi kemajuan penulis
Ingat ikuti yaa demi kemajuan penulis


Komentar