Matematika dan logika
logika dan matematika
Logika adalah seorang lelaki, dan matematika adalah seorang wanita
Mereka berdua telah membangun hubungan jarak jauh semenjak lama, suatu ketika logika berlibur kuliah, ia memutuskan untuk pulang ke kampungnya agar bisa dapat melihat matematika di sana. Rasa kagen yang lama itu mungkin saja terobati. logika yang di landa asmara mulai menghubungi matematika lewat telepon sekulernya.
logika: halooo sayang.
matematika: halo juga sayang, berapa waktu yang kau butukan sayng untuk bicara.
logika: sebentar saja tak lama.
matematika: tak lama itu berapa.
logika: lima menit saja.
matematika : jika waktu yang dibutuhkan 5 menit dalam berbicara, maka 1 menit biayanya rp 700 maka selama lima menit kamu mengeluarkan rp 3.500.
logika: tak apa kalau 3.500 sayng, kan bisa menggunakan hp teman saya untuk dapat berkomunikasi apa bila pulsa habis. intinya saya ingin sampaikan bahwa saya pulang minggu ini.
matematika: jika kamu berangkat pada hari minggu kamu melewati 3 pos singgah dan dari masing-masing post singga membutukan 1 hari perjalana agar sampai disini kamu berada pada hari kamis bukan minggu.
ketika logika sampai di desanya dia bergegas untuk bertemu dengan matematika di rumahnya, kiranya rasa rindu yang lama terpendam itu dapat terobati.
logika: assalamualaikum.
sambil mengetuk pintu rumah.
matematika: waalaikumsalam
menetapkan wajahnya di samping pintu, sambil mempersilakan matematika untuk masuk ke dalam rumah. matematika sangat senang sekaligus ragu melihat logika datang berkunjung di rumahnya.
senangnya yaitu bertemu dengan logika secara langsung dan melihat logika dalam keadaan yang baik-baik saja. dan keraguan yaitu segera tahu apa yang di perbuat di tempat kuliahnya, Tiba-tiba matematika lasung bertanya?
Matematika: berapakan wanita di sana.
Logika: bnayak, sekitaran ribuah
Matematika: lalu berapa yang kamu dekat
Logika: banyak.
Matematika: banyak itu berapa.
Logika: ciiie... Ciiieee. Kamu cemburuh yee.
Matematika: saya ingin ada kepastian.
Logika: kamu satu satunya di hati aku.
Dengan bangga logikan menjawab, tak lama menjelang matematikan mulai kemerahan wajahnya, matematika menatap logika dengan tatap serius. Lalu tindakan berikutnya di belayangkan kelima jari di pipi logika dengan keras ( begitulah tamparan) yang di terima logika.
Logika saat itu pun bingung, iya berusaha meminta penjelasan dari matematika, namun jawabat matematika adalah PUTUS.
Logika bersi keras agar memdapatkan jawaban yang tepat, kenapa tiba tiba iya di tampar dan diputusin begitu saja tanpa tahu kesalahan. Sebab logika memaksan, matematika pun mejawab.
Matematika: kamu menjawab aku adalah satu satunya di hatimu, pada hal Kamu tau bahwa satu satunya itu bisa menjadi dua. Aku hanyalah satu. Yang satunya dimana!
Matematika kembali melempari logika dengan sebuah bendah.
Pada akhirnys logika binggung takaruang....
Modus
Komentar