Pantai Difur
20 januari 2018 Perjalanan kami dari pusat kota Tual menuju ke pantai difur Kurang lebih memakan waktu 30 menit. Sebelum tiba di sana, kami memilih melitasi desa induk pantai difur yaitu desa lebetawi, dalam admistari desa lebetawi berada pada kecematan pulau dullah utara kota Tual. secara adat, desa lebetawi masuk dalam kesatuan masyarakat adat hutan tel barat atau (baldu wahadat).
Tiba-tiba kecepatan kendaran kami turunkan tepat di pintu gabura masuk desa lebetawi sempat kami membaca woma loor ivun sebagai simbol adat yang di tandai dengan ikan. Orang-orang kei biasa meyebuat woma atau pusat perkumpulan orang tua-tua jaman dulu. Namun tujuan kami bukan untuk mengali sejara. Kami hanya sekedar bertanya kebetulan ada teman yang bertempat tinggal disini. bersama rombong diantar oleh salah satu paman, menuju alamat teman yang kami tanya tadi.
Sesampai di dalam desa lebetawi kujungan kami di sambut khusus oleh masyarakat di sana, mereka mempersilakan singga lebih dulu mencicipi beberapa jamuan di atas meja seperti teh, kopi, goreng-goreng dll. Hal itu sepertinya menjadi ciri khas masyarakat desa lebetawi apa bila tamu dari luar yang berkunjung ke desa. Nilai-nilai kekeluarga masih di junjung tinggi sebagaimana upaya dalam memegan falsafa hidup orang kei pada umumnya.
Hal yang paling menarik adalah desa lebetawi memiliki ribuan ikan laut yang di takap nelayan, kami di berikan beberap ekor untuk di bakar nanti di Taman, tapi sunggu kata Taman di ucapkan oleh masyarakat di sana mengejutkan suasana siang itu, kami berpikir bahwa ada tempat distinasi wisata baru selain pantai difur, rupanya kata taman itu di sebuat pantai difur. Kata di singkat untuk mejadikan petanda pemilik petuwanan, difur di singkat dengan bahasa daerah. DEN I FO UMAT RENLEEW RENNGUR yang memiliki arti bagian sini milik masyarakat Renleew, Renngur
Ingin tahu informasi sekitar kei, anda bisa juga membaca artikel-artikel lainnya
Di kompak09



Komentar