proposal pengaruh harga air terhadap permintaan air bersih dan jumlah pelangan di (PDAM) Kabupaten Maluku Tenggara
MOTO
DAN PERSEMBAHAN
Obat Dari Kebodohan Adalah
Terus Belajar Dan Bertanya
(Nabi Muhammad SAW)
Jadilah diri anda senidi
siapa lagi yang akan melakukannya lebih baik ketibang diri anda sendiri
(Plato)
Segala Kebanaran maunya
diketahui dan dinyatakan, dan juga dibenarkan; kebenaran itu sendiri tidak
memerlukan hal itu, karena dialah yang menunjukan apa yang diakui benar dan
harus berlaku
(Paul Natorp)
Manusia itu akan menjadi
agung jika memadukan secara harmonis dari tiga hal: Kekuatan, kecerdasan dan
kebanggaan
(Friedrich Wilhelm
Nietzsche)
Karya ini dengan penuh
kebanggaan aku persembahkan: Untuk Keluarga kedua orangtuaku yang jasanya takkan
tergantikan oleh apapun. Papa Muhammad Musni Ingratubun Koedoeboen, Siti
Rahma Ingratubun dan Wahyudin Ingratubun, SH Tanpa mereka, Proposal ini mungkin
takkan pernah ada dan lahir.
KATA PENGANTAR
Segala puji syukur penulis panjatkan ke
hadirat Allah SWT Tuhan Yang Maha ESA yang telah melimpahkan rahmat, taufik,
Magfirroh dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Proposal dengan
judul “ANALISIS
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERMINTAAN DI KABUPATEN MALUKU TENGGARADi Kota
Tual ”.
Salawat
serta Salam Penulis panjatkan Kepada junjungan Kita bagindan Besar Nabi
Muhammad SAW, semoga Kita semua Menjadi umat pilihannya diakhir zaman nanti.
Adapun tujuan dari penulisa
Proposal ini adalah untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam mencapai gelar
serjana Ekonomi pada Program Studi Pembangunan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi
STIE-Umel Tual.
Dalam kesempatan ini
penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:
1.
Ny.Hj.Syamsiah
Ingratubun, S.Pdi.,SM.,M.Si selaku Ketua Yayasan Muhammad Thaha Tual.
2.
Bapak
Dr.H.Muhammad Husni Ingratubun. SH.,SE.,MH.,MM. selaku Ketua Sekolah Tinggi
Ilmu Ekonomi STIE-Umel Tual.
3.
Bapak
Tomas. E.V. Rahajaan, S.sos.M.AB selaku Wakil Wetua I STIE-Umel Tual.
4.
Ibu
Gergonia P. Ohoiledwarin, S.Sos.,M.Si selaku Wakil Wetua II STIE-Umel Tual.
5.
Ibu
Bachriani Susanti, S.Ip.,M.Si selaku Wakil Wetua III STIE-Umel Tual.
6.
Ibu
Mastani Manaf, SE.,M.Si Selaku Ketua Program studi Pembangunan.
7.
Bapak
Sam T. Rahajaan, SE.,MM selaku Ketua Program Studi Manajemen
8.
Ibu
Gergonia P. Ohoiledwarin, S.Sos.,M.Si selaku Dosen Wali.
9.
Ibu
Mastani Manaf, SE.,M.Si Selaku Pembimbing 1.
10.
Bapak
Yosephus Renmaur, SE.,M.Si, selaku pembimbing 2
11.
Kepala
Kantor Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Maluku Tenggara
12.
Dosen
dan Staf Serta Seluruh Sifitas Akademik Sekolah Tinggu Ilmu Ekonomi STIE-Umel
Tual
13.
Kedua
Orang Tua Tercinta Muhammad Musni Ingratubun dan Siti Rahma Ingratubun
14.
Kekasih
tercinta Siti Maimuna Renngur, SM yang telah banyak membantu dan memberikan
dukungan moril, Motivasi dan semangat.
15.
Saudariku
terkasih Sainudin Rahayaan, Ali R. Rettob, Amir M Rahayaan, Jam’an Tanarubun,
Achmad KS ingratubun, Rokim Litiloly, Aldi Ingratubun yang telah memberikan
dorongan motivasi dan dukungan.
16.
Seluruh
Rekan-Rekan Komunitas Mahasiswa Pelajar Kreatif yang telah membantu dan
memberikan semangat dan dukungan.
17.
Semua
pihak terkait yang tidak bisa penulis sebutkan satu Persatu, terima kasih telah
mambantu sejak awal hingga berakhirnya penulisan proposal ini.
18.
Kekasih
tercinta Siti Maimuna Renngur, SM yang telah banyak membantu dan memberikan
dukungan moril, Motivasi dan semangat.
19.
Saudariku
terkasih Sainudin Rahayaan, Ali R. Retto, Amir M Rahayaan, Jam’an Tanarubun,
Achmad KS ingratubun, Rokim Litiloly, Aldi Ingratubun yang telah memberikan
dorongan motivasi dan dukungan.
20.
Seluruh
Rekan-Rekan Komunitas Mahasiswa Pelajar Kreatif yang telah membantu dan
memberikan semangat dan dukungan.
21.
Semua
pihak terkait yang tidak bisa penulis sebutkan satu Persatu, terima kasih telah
mambantu sejak awal hingga berakhirnya penulisan proposal ini.
Penulis menyadari sungguh
bahwa penulisan proposal ini masih banyak kekurangan dalam penyusunan dan jauh
dari kesempurnaan oleh karena itu, penulis menerima segala bentuk kritikan dan
saran yang bersifat membangun bagi pengembangan proposal ini dimassa mendatang.
Semoga proposal ini bermanfaat bagi semua pihak.
Tual,
10 juli 2018
Penulis
DAFTAR ISI
Lembaran Persetujuan...................................................................................................... I
Moto...................................................................................................................................... II
Kata Pengantar .................................................................................................................. III
Daftar Isi .............................................................................................................................. V
Daftar Tabel......................................................................................................................... VII
Daftar Gambar..................................................................................................................... VIII
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah....................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah................................................................................................ 8
1.3 Tujuan Penelitian ................................................................................................. 8
1.4 Manfaat Penelitian ............................................................................................... 9
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Tinjauan Teori dan
Penelitian terhadulu......................................................... 10
2.1.1 Tinjauan Teori .............................................................................................. 10
2.1.2 Teori Pengeluaran pemerintah ................................................................. 10
2.1.3 Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) ................................... 13
2.1.4 Industri ........................................................................................................... 15
2.1.5 Industri Pariwisata ....................................................................................... 16
2.1.6 Penerimaan Pariwisata .............................................................................. 18
2.1.7 Pertumbuhan Ekonomi............................................................................... 19
2.1.8 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB................................................. 23
2.1.9 Hubungan Pengeluaran Pemerintah dan Industri Pariwisata
Terhadap PDRB ............................................................................................. 26
2.2 Penelitian Terdahulu......................................................................................... 30
2.3 Kerangka Konsep............................................................................................... 31
2.4 Hippotesis............................................................................................................. 31
III. METODE PENELITIAN
3.1 Jenis dan Sumber Data........................................................................................ 32
3.2 Variabel dan Desain Penelitian ......................................................................... 32
3.2.1 Variabel terikat (dependen variabel).........................................................
3.2.2 Variabel bebas (independent)....................................................................
3.2.1 Desain Penelitian.........................................................................................
3.3 Populasi dan Sampel Penelitian........................................................................ 33
3.4 Defenisi Operasional Variabel............................................................................ 34
3.5 Teknik Pengumpulan Data.................................................................................. 34
3.6 Rancangan Analisis Data.................................................................................... 35
DAFTAR
PUSTAKA ................................................................................................... 39
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman..............................................................................................................
Table 1.1 PDRB Kota Tual Atas Harga Konstan Menurut
Pengeluaran Pemerinta Tahun 2012-2016.............................................. 4
Table 1.2 PDRB Atas Harga Konstan 2017 Kota Tual Tahun 2012-2016 ........ 6
Table 2.1 Ringkasan Penelitaian Terdahulu ......................................................... 30
DAFTAR GAMBAR
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Setiap negara baik negara maju maupun negara berkembang
dalam pembangungan ekonomi mempunyai tujuan yang sama yaitu meningkatkan
kesejahteran masyarakat begitu juga di Indonesia bahwa tujuan akhir pembangunan
ekonomi Indonesia adalah meningkatkan kesejahteraan rakyat seutuhnya.
Pembangunan merupakan usaha untuk menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan
masyarakat yang berarti bahwa hasil-hasil pembangunan harus dapat dinikmati
oleh rakyat secara adil dan merata. pembangunan ekonomi adalah salah satu dari
berbagi upaya yang ada, yang dapat dilaksanakan oleh pemerintah dalam menuju
pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat sehingga setiap perencanaan
dalam pembangunan akan mempertimbangkan semua potensi ekonomi. Menurut Jhingan
(2000: 69).
Salah satunya bidang pembangunan untuk masyarakat adalah
menyediakan air bersih. Untuk mendukung kebutuhan akan air tersebut. Bahkan
dalam perekonomian air memegang peranan penting yakni untuk keperluan
pertanian, industri perikanan, dan sebagainya. Hal ini akan mempengaruhi
permintaan pelanggan terhadap air minum yang juga semakin meningkat. (Sadono
Sukirno, 2002:91)
Secara
umum dapat dikatakan bahwa kota dan wilayah akan selalu tumbuh dan berkembang.
Besar kecilnya laju perkembangan atau pertumbuhan suatu kota akan sangat
ditentukan oleh faktor-faktor pengembangnya. Pada hakikatnya ada dua aspek
utama faktor percepatan yaitu aspek penduduk dan sosial ekonominya, yang
kedua-duanya bersifat berkembang (Djoko Sujarto, 1974).
Kedua
faktor tersebut mempunyai kaitan yang erat. Besarnya jumlah penduduk di suatu
daerah akan menuntut dan menimbulkan kegiatan yang beraneka ragam. Sebaliknya,
kegiatan yang beraneka ragam di suatu daerah akan menarik penduduk sehingga
daerah tersebut akan berkembang. Salah satu kegiatan yang berkaitan dengan
jumlah penduduk adalah penyediaan air minum. Prasarana kota memegang peranan
yang sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan suatu kota atau wilayah.
Karena prasarana dapat memberi dampak terhadap peningkatan taraf dan mutu
kehidupan masyarakat, pola pertumbuhan dan prospek perkembangan ekonominya. Air
minum merupakan salah satu hal yang penting dan mendapat prioritas dari
perencanaan kota dan wilayah (Catanese dan Snyder, 1996)
Pada
dasarnya Air merupakan salah satu sumber kehidupan bagi manusia termasuk
lingkungan yang ada di sekitarnya. Air digunakan manusia secara langsung untuk
memenuhi kebutuhan hidup mereka sehari-hari seperti minum, mandi, mencuci,
sedangkan pemanfaatannya yang secara tidak langsung adalah untuk mengembangkan
lingkungan hidupnya (Rambe dalam Winama,2003).
Seperti peningkatan kesejahteraan masyarakat, sebagai
mana ditetapkan dalam pasal 33 ayat 3 UUD 1945 yang berbunyi: "Bumi dan
air kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan
dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat".
Di Pasal 10 UU No. 22 Tahun 1999
tentang Pemerintah Daerah menyatakan bahwa daerah berwenang untuk mengelola
sumber regional yang tersedia di wilayahnya dan bertanggung jawab memelihara
kelestarian lingkungan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Sebagai
bentuk penyerahan sebagian urusan pemerintah dibidang pekerjaan umum kepada
daerah, maka pelayanan air minum diserahkan kepada Pemerintah Daerah.
Selanjutnya, melalui Peraturan Daerah pelaksanaannya diserahkan kepada Sebuah
instansi. Dalam hal ini instansi yang menangani adalah Perusahaan Daerah Air
Minum (PDAM),
PDAM
Kabupaten Maluku Tenggara adalah perusahaan daerah sebagai sarana penyedia air
bersih yang diawasi dan dimonitor oleh aparat-aparat eksekutif maupun
legislatif daerah. PDAM sebagai perusahaan daerah diberi tanggung jawab untuk
mengembangkan dan mengelola sistem
penyediaan air bersih serta melayani semua kelompok konsumen dengan harga yang
terjangkau. PDAM Kabupaten Maluku Tenggara bertanggung jawab pada operasional
sehari-hari, perencanaan aktivitas, persiapan dan implementasi proyek, serta
bernegosiasi dengan pihak swasta untuk mengembangkan layanan kepada masyarakat.
PDAM Kabupaten Maluku Tenggara yang
bergerak di bidang jasa penyediaan air bersih. Sesuai dengan Peraturan Daerah
Nomor 4 Tahun 2004 tujuan dibentuknya PDAM Kabupaten
Maluku Tenggara adalah sebagai sarana pengembangan perekonomian dan sebagai
salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Dimana PDAM Kabupaten Maluku
Tenggara merupakan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).
Pada umumnya Badan Usaha Milik
Daerah (BUMD) di indonesia dalam menjalankan usahanya dibebankan pada tiga misi
yaitu, sebagai pelayanan publik, sebagai sumber pendapatan daerah (PAD), dan
juga sebagai agen pendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah No.
14 tahun 1987 tentang desentralisasi tanggung jawab pemerintah pusat disebutkan
bahwa tanggung jawab untuk menyediakan suplai air bersih adalah pada pemerintah
daerah. Sebagai perwujudannya, penyediaan sebagian besar kebutuhan air bersih
di Indonesia dilakukan oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), yang terdapat
di Indonesia.
sedangkan tujuan lainnya adalah ikut
serta mengembangkan perekonomian guna menunjang pembangunan daerah dengan
memperluas lapangan pekerjaan, serta mencari laba sebagai sumber utama
pembiayaan bagi daerah. PDAM Kabupaten Maluku Tenggara sebagai salah satu BUMD
diharapkan memberikan kontribusi Yang memadai sebagai pelayanan masyarakat dan
diharapkan mampu memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Table 1.1
Jumlah Pelanggan (PDAM)
Kabupaten Maluku Tenggara
Tahun 2012-2016 ()
No
|
Tahun
|
Jumlah Pelanggan
|
1
2
3
4
|
2014
2015
2016
2017
|
4.270
3.886
5.043
6.291
|
Sumber data; PDAM Kabupaten
Maluku Tenggara
Dari tabel 1.1 dapat dijelaskan pada
tahun 2014 jumlah pelanggan sebesar (4.270), lebih besar dibandingkan dengan
tahun 2015 sebesar (3.886), naik kembali pada tahun 2016 sebesar (5.043) dan di
tahun 2017 naik sebesar (6.291).
Menurut Dumairy (19992),
kebutuhan air bersih selalu meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah
penduduk. Total kebutuhan air bersih dilakukankarena banyak faktor yang harus dipertimbangkan,
diantaranya adalah meningkatnya keberagaman kegiatan dan peradaban penduduk.
Berdasarkan tujuan penggunaannya, kebutuhan air bersih dapat diklasifikasikan
kedalam dua kelompok, yaitu: Kebutuhan Domestik digunakan untuk menunjang
kegiatan sehari-hari atau rumah tangga seperti mencuci, mandi, memasak, dan
lain-lain. Dan kebutuhan non domestik digunakan untuk beberapa jenis kegiatan,
yaitu Institusional, komersial, industry, dan fasilitasi umum.
Kebutuhan institusional meliputi
kegiatan perkantoran, sekolah rumah sakit dan lain-lain kebutuhan komersial terdiri
dari pertokoan, hotel, restoran, dan lain-lain kebutuhan industry biasanya
digunakan untuk faktor produksi dan kebutuhan untuk fasilitasi umum untuk
kepentingan publik, seperti tempat rekreasi, pasar, terminaldan lain-lain.
1.1
Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang masalah di atas, penulis merumuskan masalah dalam penelitian
ini adalah :
- Bagaimana pengaruh harga air terhadap permintaan air bersih di (PDAM) Kabupaten Maluku Tenggara.?
- Bagaimana pengaruh jumlah penduduk terhadap permintaan air bersih di (PDAM) Kabupaten Maluku Tenggara.?
1.2
Tujuan
Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
- Untuk mengetahui pengaruh harga air terhadap permintaan air bersih di (PDAM) Kabupaten Maluku Tenggara.
- Untuk mengetahui pengaruh jumlah penduduk terhadap permintaan air bersih di (PDAM) Kabupaten Maluku Tenggara.
1.4
Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.
Manfaat ilmiah,
untuk memahami dan mendalami masalah-masalah di bidang ilmu ekonomi khususnya
yang berkaitan dengan pengeluaran pemerintah dan Industri pariwisata terhadap Produk
Domestik Regional Bruto (PDRB).
2.
Manfaat praktis,
diharapkan penelitian ini dapat bermanfaat sebagai referensi bagi
peneliti-peneliti selanjutnya yang tertarik untuk melakukan penelitian yang
berhubungan dengan masalah serupa.
3.
Manfaat
kebijakan, diharapkan penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan
pemerintah dalam pengambilan kebijakan, khususnya yang berkaitan dengan pengeluaran
pemerintah dan Industri pariwisata terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Tinjauan Teori
dan Penelitian Terdahulu
2.1.1 Tinjauan Teori
2.1.2
Pengertian
permintaan
permintaan
adalah berbagai jumlah (kuantitas) suatu barang dimana konsumen bersedia
membayar pada berbagai alternatif harga barang (Soeharno, 2009: 13). Permintaan
dalam pengertian ekonomi adalah sebagai, fungsi yang menunjukkan berbagai
jumlah suatu produk yang para konsumen ingin dan mampu membeli pada berbagai
tingkat harga yang mungkin selama periode waktu tertentu. Permintaan dapat
didefinisikan sebagai ‘banyaknya barang yang diminta konsumen pada harga
tertentu’. Permintaan seseorang atau sesuatu masyarakat kepada sesuatu barang
ditentukan oleh banyak faktor. Diantara faktor-faktor tersebut yang terpenting
(Sukirno,2004 : 76) adalah:
- Harga barang itu sendiri.
Hukum permintaan pada dasarnya
merupakan suatu hipotesis yang menyatakan: “Semakin rendah harga suatu barang
maka semakin banyak permintaan terhadap barang tersebut. Sebaliknya, semakin
tinggi harga suatu barang maka semakin sedikit permintaan terhadap barang
tersebut” (ceteris paribus). Harga barang yang lebih murah akan menarik minat
masyarakat untuk membeli barang tersebut dibandingkan membeli barang sejenisnya
dengan harga yang lebih tinggi, selain itu turunnya atau lebih murah nya harga
suatu barang akan menyebabkan pendapatan riil pembeli bertambah.
2. Harga barang-barang lain.
Permintaan konsumen dapat
dipengaruhi oleh harga, harga barang yang akan dibeli (P), harga barang
pengganti (price of subsitution product) maupun harga pelengkap (price of
complementary product). Konsumen akan membatasi pembelian jumlah barang yang
diinginkan apabila harga barang terlalu tinggi, bahkan ada kemungkinan konsumen
memindahkan konsumsi dan pembeliannya kepada barang pengganti (barang
substitusi) yang lebih murah harganya. Harga barang pelengkap juga akan
mempengaruhi keputusan seorang konsumen untuk membeli atau tidak barang
utamanya, bila permintaan barang utama meningkat, maka permintaan akan barang
penggantinya akan menurun dan sebaliknya. Hubungan antara suatu barang dengan
berbagai jenis-jenis barang lainnya dapat dibedakan menjadi tiga golongan :
- Barang lain merupakan barang pengganti.
Suatu
barang dinamakan sebagai barang pengganti kepada barang lain apabila ia dapat
menggantikan fungsi barang lain tersebut. Harga barang pengganti dapat
mempengaruhi permintaan barang yang dapat digantikannya. Jika harga barang
pengganti bertambah murah maka, barang yang digantikannya akan mengalami
pengurangan dalam permintaannya. Oleh sebab itu, barang pengganti ini sering
kita sebut dengan barang substitusi.
- Barang lain merupakan barang pelengkap.
Apabila
suatu barang selalu digunakan bersama dengan barang lainnya, maka barang
tersebut dinamakan barang pelengkap kepada barang lainnya tersebut. Kenaikan
atau penurunan permintaan terhadap barang pelengkap selalu berjalan dengan
perubahan
permintaan
barang yang digenapinya. Oleh sebab itu, barang pelengkap ini sering kita sebut
dengan barang komplemen.
- Kedua barang itu tidak memiliki keterkaitan sama sekali antar satu dengan yang lain.
Apabila
dua macam barang tidak mempunyai hubungan yang penting, maka perubahan terhadap
permintaan salah satu barang tersebut tidak akan mempengaruhi permintaan barang
lainnya. Barang seperti itu dinamakan barang netral.
3.
Pendapatan rata-rata masyarakat (Pendapatan Per Kapita).
Pendapatan
para pembeli merupakan faktor yang sangat penting dalam menentukan permintaan
terhadap berbagai barang. Kosumen tidak akan dapat melakukan pembelanjaan
barang kebutuhan apabila pendapatan tidak ada atau tidak memadai. Dengan
demikian, maka perubahan pendapatan akan mendorong konsumen untuk mengubah
permintaan akan barang kebutuhannya.Berdasarkan pada sifat perubahan permintaan
yang berlaku apabila pendapatan berubah, berbagai barang dapat dibedakan
menjadi empat golongan :
- .Barang inferior, adalah barang yang banyak diminta oleh orang-orang yang berpendapatan rendah. Jika pendapatan bertambah tinggi, maka permintaan terhadap barang-barang yang tergolong barang inferior akan berkurang. Masyarakat yang mengalami kenaikan pendapatan akan mengurangi pengeluarannya terhadap barang-barang inferior dan menggantikannya dengan barang-barang yang lebih baik mutunya.
- .Barang esensial, adalah barang yang sangat penting artinya dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Biasanya barang itu terdiri dari kebutuhan pokok masyarakat seperti makanan dan pakaian yang utama.Belanja seperti ini tidak berubah walaupun pendapatan meningkat.
- Barang normal, adalah barang yang apabila terjadi kenaikan pendapatan maka barang ini juga akan mengalami kenaikan. Kebanyakan barang yang ada dalam masyarakat termasuk dalam golongan ini. Ada dua faktor yang menyebabkan barang-barang ini permintaannya akan mengalami kenaikan kalau pendapatan masyarakat bertambah, yaitu :
i.
Pertambahan
pendapatan menambah kemampuan untuk membeli lebih banyak barang, dan
ii.
Pertambahan
pendapatan memungkinkan masyarakat menukar konsumsi mereka dari barang yang
kurang baik mutunya menjadi barang-barang yang lebih baik mutunya.
- Barang mewah, adalah barang yang akan dibeli orang apabila pendapatan mereka sudah relatif tinggi. Biasanya barang-barang mewah (emas, permata, mobil) tersebut baru bisa dibeli masyarakat setelah dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang pokok.
4.
Selera.
Selera
merupakan faktor yang dapat mempengaruhi permintaan konsumen terhadap suatu
barang. Berapapun harga barang yang diturunkan jika konsumen tidak memiliki
selera untuk menggunakan barang tersebut, tidak terjadi permintaan terhadap
barang tersebut, begitu juga sebaliknya.
5.
Jumlah penduduk.
Pertambahan
penduduk tidak dengan sendirinya menyebabkan pertambahan permintaan. Tetapi,
biasanya pertambahan penduduk diikuti oleh perkembangan dalam kesempatan kerja.
Dengan demikian lebih banyak orang yang menerima pendapatan dan ini akan
menambah daya beli dalam masyarakat untuk berbelanja. Pertambahan daya beli
masyarakat ini akan menambah permintaan.
6.
Ekspektasi Di Masa Yang Akan Datang.
Perubahan-perubahan
yang diperkirakan akan terjadi di masa yang akan datang dapat mempengaruhi
permintaan. Perkiraan bahwa harga-harga akan bertambah tinggi di masa yang akan
datang, dapat mendorong jumlah pembelian yang lebih banyak pada saat ini,
demikian juga sebaliknya bila perkiraan harga-harga akan turun, maka hal
tersebut akan mendorong penundaan pembelian sehingga mengurangi jumlah
pembelian saat ini.
Sangat
sukar untuk secara sekaligus menganalisis pengaruh berbagai faktor tersebut
terhadap permintaan sesuatu barang. Oleh sebab itu, dalam membicarakan teori
permintaan, ahli ekonomi membuat analisis yang lebih sederhana. Dalam analisis
ekonomi dianggap bahwa permintaan suatu barang terutama dipengaruhi oleh
tingkat harganya. Oleh sebab itu dalam teori permintaan yang terutama dianalisis
adalah hubungan antara jumlah permintaan suatu barang dengan harga barang
tersebut. Dalam analisis tersebut diasumsikan bahwa ‘faktor-faktor lain tidak
mengalami perubahan’ atau cateris paribus. Tetapi dengan asumsi yang dinyatakan
ini tidaklah berarti bahwa kita dapat mengabaikan faktor-faktor yang dianggap
tetap tersebut. Setelah menganalisis hubungan antara jumlah permintaan dan
tingkat harga maka selanjutnya boleh mengasumsikan bahwa harga adalah tetap dan
kemudian menganalisis bagaimana permintaan suatu barang dipengaruhi oleh
berbagai faktor lainnya. Dengan demikian
dapatlah diketahui bagaimana permintaan terhadap suatu barang akan berubah
apabila cita rasa atau pendapatan atau harga barang-barang lain mengalami
perubahan pula (Sukirno, 2005).
Menurut Putong (2006:25), permintaan
adalah banyaknya jumlah barang yang diminta pada suatu pasar tertentu dengan
tingkat harga tertentu pada tingkat pendapatan tertentu dan dalam priode
tertentu. Permintaan merupakan keinginan yang disertai dengan kesediaan serta
kemampuan untuk membeli barang yang bersangkutan. Setiap orang boleh saja ingin
kepada apapun yang diinginkannya, tetapi jika keinginannya itu tidak ditunjang
dengan kesediaan membeli serta kemampuan untuk membeli, maka keinginannya
itupun hanya akan tinggal keinginan saja (Rosyidi, 2000 : 55).
Sebagaimana
diketahui bahwa yang dimaksud dengan permintaan barang atau jasa adalah skala
yang menunjukkan jumlah produk yang diinginkan dan mampu dibeli konsumen pada
berbagai kemungkinan harga selama waktu tertentu dan hal lain diasumsikan
konstan. Di dalam dunia nyata, suatu barang mempunyai harga pasar. Oleh karena
itu permintaan baru akan mempunyai arti bila didukung oleh tenaga beli dari
yang meminta barang tersebut. Permintaan yang didukung oleh kekuatan beli
seseorang tergantung dari pendapatan yang dapat dibelanjakan dan harga barang.
Secara sistematis dapat dijelaskan bagaimana perubahan harga dan pendapatan
secara bersama-sama mempengaruhi terhadap jumlah barang yang diminta. Supaya
dapat dianalisa dengan jelas tingkah laku konsumen yang dinyatakan didalam
hukum permintaan. Artinya, bagaimana reaksi konsumen dalam kesediaannya membeli
suatu barang yang bersangkutan, dengan asumsi ceteris paribus (factor-faktor
lainnya dianggap konstan).
2.1.3
Hukum Permintaan
Hukum
permintaan adalah Kuantitas harga dan permintaan yang berbanding terbalik
(negatif) menimbulkan konsekuensi bahwa apabila harga naik maka permintaan
turun dan apabila harga turun maka permintaan akan naik. Hukum permintaan
menyatakan bahwa apabila harga suatu barang naik, maka jumlah barang yang akan
diminta turun. Dengan asumsi hal-hal lain dianggap tetap (M. Suparmoko,
1984:17).
Secara
sederhana hukum permintaan permintaan dapat dirumuskan sebagai kuantitas yang
dibeli per unit waktu semaki besar apabila harga dengan mengganggap hal-hal
lain yang turut mempengaruhi permintaan adalah tidak berubah (ceteris paribus).
Hukum permintaan pada hakekatnya merupakan suatu hipotesis yang menyatakan
makin rendah harga dari suatu barang maka makin banyak permintaan atas suatu
barang tersebut (Sardono Sukirno, 1997:77).
Penyebab
utama berlakunya hukum permintaan ini karena terbatasnya pendapatan konsumen.
Hubungan terbalik antara harga dan kuantitas yang diminta dapat dijelaskan
sebagai berikut:
- Jika harga barang naik, pendapatan konsumen yang tetap merupakan kendala bagi konsumen untuk melakukan pembelian yang lebih banyak.
- Jika harga suatu barang naik, konsumen akan mencari barang pengganti.
(Joerson
dan Fathorrozi, 2003)
Hukum
permintaan tersebut menerangkan hubungan antara jumlah yang diminta akan suatu
barang dengan harga barang tersebut. Pada analisis permintaan dibedakan dua
istilah yaitu permintaan dan jumlah barang yang diminta. Dikatakan permintaan
jika yang dimaksud adalah keseluruhan hubungan antara harga sedangkan jumlah
barang yang diminta maksudnya banyak permintaan pada suatu tingkat harga
tertentu (Sadono, 2003).
Sifat
hubungan jumlah permintaan dan tingkat harga seperti itu disebabkan karena;
yang pertama adanya kenaikan harga yang menyebabkan para pembeli mencari barang
lain yang dapat digunakan sebagai pengganti terhadap barang yang mengalami
kenaikan harga. Sebaliknya, apabila harga turun maka orang mengurangi pembelian
terhadap barang lain yang sama jenisnya dan menambah pembelian terhadap barang
yang mengalami penurunan harga. Yang kedua, kenaikan harga menyebabkan
pendapatan riil para pembeli berkurang. Pendapatan yang merosot tersebut
memaksa para pembeli untuk mengurangi pembeliannya terhadap berbagai jenis
barang, dan terutama barang yang mengalami kenaikan harga. (Sukirno, 2005)
2.1.4
Elastisitas Permintaan
Elastisitas
adalah derjat kepekaan yang diminta terhadap salah satu factor yang
mempengaruhi fungsi permintaan (harga, pendapatan dan faktor yang lain).
Elastisitas biasanya digunakan untuk menjelaskan respons atau perubahan
kuantitas yang diminta jika harga, pendapatan, atau faktor-faktor lainnya
beruba. Derajat kepekaan kuantitas barang yang diminta terhadap perubahan harga
atau faktor-faktor lain penting karena hal tersebut mempengaruhi kestabilan
harga-harga pasar (Arsyad, 2000:47).
Aspek
yang memberikan arti penting bagi analisis ekonomi adalah konsep elastisitas.
Elastisitas merupakan suatu pengertian yang menggambarkan derajat kepekaan
fungsi permintaan terhadap pengubahan yang terjadi pada variabel yang
mempengaruhi. Dikenal ada tiga elastisitas permintaan, yaitu elastisitas
pendapatan, elastisitas harga barang itu sendiri, dan elastisitas silang.
- Elastisitas pendapatan Konsep elastisitas pendapatan merupakan hubungan antara pengubahan jumlah barang yang diminta sebagai akibat dari pengubahan pendapatan.
- Elastisitas harga Konsep elastisitas harga digunakan untuk mengukur derajat kuantitas barang yang dibeli sebagai akibat pengubahan harga barang itu sendiri
- Elastisitas silang Elastisitas silang dapat diartikan sebagai tingkat kepekaan suatu barang yang diakibatkan oleh pengubahan harga barang lain
(Zaini Ibrahim, 2016).
Di
dalam ilmu ekonomi dikenal dua macam elastisitas, yaitu elastisitas permintaan
(demand elasticity), dan elastisitas penawaran (supply elasticity). Sejumlah
jenis barang mungkin mengalami lonjakan ataupun penurunan permintaan yang cukup
besar. Namun beberapa jenis barang lainnya mungkin tidak terlalu terpengaruh
penjualannya. Inilah yang disebut dengan elastisitas permintaan. Bila di
definisikan, elastisitas permintaan adalah besar perubahan permintaan yang
terjadi sebagai akibat dari perubahan harga. Sebuah permintaan dikatakan
elastis jika kuantitas barang yang diminta akan berubah banyak akibat harga
berubah. Sebaliknya, permintaan dikatakan inelastis bila kuantitas barang yang
diminta hanya sedikit berubah akibat harga berubah. Elastisitas yaitu untuk
mengukur kepekaan dari satu variabel terhadap yang lainnya. Secara spesifik,
elastisitas adalah suatu bilangan yang menginformasikan kepada kita persentase
perubahan yang terjadi pada satu varibel sebagai reaksi terhadap perubahan 1%
pada variabel lain. Salah satu karakteristik dari kurva atau fungsi permintaan
ialah derajat kepekaan jumlah permintaan terhadap perubahan salah satu faktor
yang memengaruhinya. Ukuran derajat kepekaan ini disebut elastisitas.
Elastisitas permintaan mengukur perubahan relatif dalam jumlah unit barang yang
dibeli sebagai akibat perubahan salah satu faktor yang memengaruhinya. Ada
beberapa macam konsep elastisitas yang berhubungan dengan permintaan.
Elastisitas permintaan mengukur perubahan relatif dalam jumlah unit barang yang
dibeli sebagai akibat perubahan salah satu faktor yang memengaruhinya (cateris
paribus).
(Nur
Rianto, EuisAmalia, 2010, 55).
2.1.5
Rumah
Tangga sebagai Konsumen.
Konsumsi
merupakan kegiatan menggunakan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Konsumsi adalah semua penggunaan barang dan jasa yang dilakukan manusia untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya. Konsumsi mempunyai arti sebgai pembelanjaan atas
barang-barang dan jasa-jasa yang dilakukan oleh rumah tangga atau seseorang
dengan tujuan untuk memenuhi segala kebutuhan dari orang yang melakukan
pembelanjaan tersebut. Pembelanjaan masyarakat atas makanan, pakaian, dan
barang-barang kebutuhan mereka yang lain digolongkan pembelanjaan atau
konsumsi. Sedangkan barang-barang yang diproduksi untuk digunakan oleh
masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya dinamakan barang konsumsi (Dumairy,
2004).
Tindakan konsumsi dilakukan setiap
hari oleh siapapun. Tujuannya adalah untuk memperoleh kepuasan dan mencapai
tingkat kemakmuran dalam arti terpenuhi berbagai macam kebutuhan, baik
kebutuhan pokok maupun sekunder, barang mewah maupun kebutuhan jasmani dan
kebutuhan rohani. Tingkat konsumsi memberikan gambaran tingkat kemakmuran
seseorang atau masyarakat. Adapun pengertian kemakmuran disini adalah semakin
tinggi tingkat konsumsi seseorang maka semakin makmur, sebaliknya semakin
rendah tingkat konsumsi seseorang berarti semakin miskin (James, 2001: 51).
Menurut
Samuelson dan Nordhaus (2001), arti dari konsumsi yaitu pengeluaran yang
dilakukan untuk memenuhi pembelian barang-barang dan jasa akhir guna untuk
mendapatkan kepuasan ataupun memenuhi kebutuhannya. Konsumsi terbagi menjadi
dua macam, yang pertama konsumsi rutin dan yang kedua konsumsi
sementara.Konsumsi rutin mempunyi arti sebagai pengeluaran yang dilakukan untuk
pembelian barang dan jasa secara terus menerus yang dikeluarkan selama
bertahun- tahun.Sedangkan arti konsumsi sementara yaitu setiap tambahan yang
sifatnya tidak terduga terhadap konsumsi rutin.
2.1.6 Pengetian Barang
publik.
Pemerintah
mempunyai kewajiban untuk menyediakan barang dan jasa yang tidak dihasilkan
pihak swasta kepada masyarakat. Penyediaan barang publik dalam jumlah terlalu
besar akan menyebabkan terjadinya pemborosan sumber ekonomi, sebaliknya
penyediaan barang publik yang terlalu sedikit akan menimbulkan ketidakpuasan
bagi masyarakat.
A.C
Pigou (Guritno,2003:63) berpendapat bahwa penyediaan barang publik akan memberikan manfaat bagi masyarakat, namun,
pajak yag dikenakan atas barang publik
tersebut akan menimbulkan ketidakpuasan masyarakat. Semakin banyak barang dan
jasa publik yang disediakan pemerintah, maka tambahan manfaat yang dirasakan oleh masyarakat akan semakin
menurun.
Semakin
banyak barang dan jasa publik yang disediakan oleh pemerintah, akan semakin
besar biaya yang dibutuhkan sehingga menyebabkan konsekuensi semakin besar pula
pajak yang akan dipungut dari masyarakat. Keadaan ini menyebabkan semakin
besarnya ketidakpuasan masyarakat. Secara teoritis, penyediaan barang dan jasa
publik akan optimal, apabila kepuasan yang diperoleh masyarakat sama dengan
ketidakpuasan yang didapatkan masyarakat sebagai akibat dari pemungutan pajak.
2.1.7
Air Sebagai Barang
Publik.
Air
merupakan substansi penting dalam mendukung kehidupan manusia. Tanpa air,
kesinambungan hidup manusia akan terganggu yang pada akhirnya akan menyebabkan
berkurangnya keseimbangan lingkungan hidup manusia. Seiring dengan pertambahan
populasi manusia, air bersih semakin menjadi sumber daya yang langka dan tidak
ada penggantinya. Ini merupakan permasalahan utama yang dihadapi terkait dengan
ketersediaan air bersih. air merupakan kebutuhan pokok yang selalu dikonsumsi
oleh masyarakat dan juga berpengaruh besar pada kelancaran aktivitas masyarakat
tersebut. Menurut Thuram (1995).
Menurut
Mahmudi (Edisi kedua;223) pelayanan publik adalah segala kegiatan pelayanan
yang dilaksanakan oleh penyelenggara pelayanan publik sebagai upaya pemenuhan
kebutuhan publik dan pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan. Dalam
penyelenggaraan pelayanan publik, aparatur pemerintah bertanggung jawab untuk
memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat dalam rangka menciptakan
kesejahteraan masyarakat. Masyarakat berhak untuk mendapatkan pelayanan yang
terbaik dari pemerintah karena masyarakat telah memberikan dananya dalam bentuk
pembayaran pajak, retribusi, dan berbagai pungutan lainnya. Dalam memberikan
pelayanan publik, instansi penyedia pelayanan publik harus memperhatikan asas
pelayan publik, yaitu:
- Transparansi
Pemberian pelayanan publik harus
bersifat terbuka, mudah dan dapat diakses oleh semua pihak yang membutuhkan dan
disediakan secara memadai serta mudah dimengerti.
- Akuntabilitas
Pelayanan publik harus dapat
dipertanggungjwabakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
- Kondisional
Pemberian pelayanan publik harus
sesuai dengan kondisi dan kemampuan pemberi dan penerima pelayanan dengan tetap
berpegang pada prinsip efisiensi dan efektivitas.
- Partisipatif
Mendorong peran serta masyarakat
dalam penyelenggaraan pelayanan publik dengan memperhatikan aspirasi, kebutuhan
dan harapan masyarakat.
- Tidak diskriminatif (Kesamaan Hak) Pemberian pelayanan publik tidak boleh bersifat diskriminatif, dalam arti tidak membedakan suku, ras, agama, golongan, gender, status sosial dan ekonomi.
- Keseimbangan Hak dan Kewajiban Pemberi dan penerima pelayanan publik harus memenuhi hak dan kewajiban masing-masing pihak.
Menurut (Ragam Santika 2009 : 2). Adanya gap antara permintaan dan
penyediaan infrastruktur air bersih yang tidak dengan mudah untuk dipenuhi,
menjadikan beban yang amat berat bagi pemerintah untuk mengatasinya. Celah ini
tercipta akibat makin meningkatnya tuntutan permintaan tingkat layanan (level
of service) yang belum dapat diikuti oleh pemenuhan kebutuhannya. Kawasan
perkotaan dengan pertumbuhan penduduk yang sangat pesat telah membuat
permintaan air bersih yang semakin tinggi dan jika tidak dipenuhi akan mengakibatkan
kelangkaan dan turunnya kualitas hidup masyarakat kota. Sebagai suatu barang
publik yang ketersediaannya makin terbatas, pengelolaan air bersih menjadi
salah satu tugas utama otoritas publik untuk melakukan pengaturan serta
pelayanan publik di bidang penyediaan air bersih. Pengaturan produksi,
distribusi dan konsumsi air bersih oleh pemerintah yang didasarkan atas adanya
“publik obligation” yang dapat memastikan kuantitas, kualitas dan kontinuitas
pasokan air bersih tersebut sekaligus mendukung usaha-usaha konservasi
lingkungan, terutama konservasi atas sumber daya air tersebut. Hal ini
dilakukan pemerintah melalui penyelenggaraan pelayanan air bersih secara
langsung maupun dengan pemberlakuan regulasi-regulasi terkait.
Tabel 2.1 Ringkasan Penelitian Terdahulu
Nama peneliti,
Tahun.
|
Variabel
|
Metode
|
Hasil
Penelitian
|
(1)
|
(2)
|
(3)
|
(4)
|
“Analisis Konsumsi
Air Bersih Rumah
Tangga Berdasarkan
Faktor-faktor yang
Mempengaruhinya
(Studi Kasus pada
PDAM
Kabupaten
Karanganyar)”
(Sri Winarna : 2003)
|
ariabel Dependen :
Konsumsi air bersih PDAM (cons)Variabel Independen:
· pendapatan keluarga (Y)
· pengeluaran rata-rata rumah
tangga (P)
·jumlah anggota
keluarga (AK)
·luas pekarangan (LP)
·tingkat pendidikan
kepala keluarga (PD),
·ada tidaknya sumber air lain
diluar PDAM
(dummy)
|
Analisis
statistik
deskriptif
·Analisis
regresi
berganda
Y
= β0 + β1X1 + β2X2 + β3X3 + β4X4 + β5X5 +β6X6 +ԑ
.
·Analisis
valuasi
ekonomi
|
Secara serempak variabel pendapatan
keluarga, pengeluaran
pelanggan rumah
tangga, jumlah anggota keluarga,
luas pekarangan,
pendidikan
kepala keluarga
dan ada tidaknya sumber air PDAM berpegaruh
secara signifikan
terhadap besarnya
konsumsi air bersih PDAM.
|
“
Studi Jaringan air
Bersih PDAM Di
Kecamatan Pontianak
Tenggara
”
(Ikas : 2013)
|
Kepuasan
pelayanan
(Y)
· Debit (X1)
· Tekanan air (X2)
·
Kontinuitas aliran
(X3)
· Kualitas air (X4)
|
Metode kualitatif
(deskriptif)
dan
kuantitatif
·Analisis
regresi
linier berganda
Y = β0 + β1X1 + β2X2 + β3
X3 + β4X4 + ԑ
.
|
Sistem distribusi air minum berada pada zona 2 yang
terdiri dari lima
wilayah pelayanan berdasarkan
suplai air (instalasi) dan terbagi 12 zona untuk rencana
pengendalian
kebocoran.
Tingkat kepuasan
pelayanan
terhadap pelayanan
jaringan PDAM di Kecamatan
Pontianak Tenggara
untuk jaringan
pelayanan air bersih berupa kualitas air bersih menjadi
prioritas masyarakat
dalam pelayanan air bersih. Faktor-faktor yangmempengaruhi
pelayanan jaringan adalah debit, tekanan air, kontinuitas
aliran, dan kualitas air.
|
“Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Permintaan
Air BersihDari
Masyarakat
Terhadap Perusahaan
Daerah Air Minum
Kabupaten
Karanganyar”
(Hestin Mutmainah:
2011)
|
Variabel
Dependen:
Permintaan air bersih
Variabel Independen:
·Jumlah anggota
keluarga
·Luas bangunan
·Kepemilikan sumur
|
Analisis regresi linier
berganda
Y = β0 +β1X1+ β2X2 + β3X3 + ԑ
|
Terdapat pengaruh
yang signifikan baik antara jumlah anggota keluarga,
luas bangunan,
dan kepemilikan
sumur terhadap
jumlah permintaan air bersih pada
PDAM Kabupaten
Karanganyar. Variabel paling dominan yang mempengaruhi
Permintaan terhadap air bersih PDAM di Kabupaten
Karanganyar
adalah variabel jumlah anggota keluarga.
|
2.3
Hubungan Antara variabel
2.3.1
Hubungan Harga Terhadap Permintaan Air Bersih
2.3.1
Hubungan Jumlah Penduduk Terhadap Permintaan Air Bersih
Air
Bersih merupakan kebutuhan primer dan paling utama bagi kehidupan manusia
sehingga semua orang membutuhkan air bersih untuk kelangsungan hidup mereka.
Sehingga ketika jumlah penduduk terus meningkat maka jumlah kebutuhan air
bersih untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat akan terus mengalami peningkatan
2.1
Karangka Pikir/Alur Pikir (Konseptual)
![]() |
|
|
Gambar 2.1 Kerangka Pikir
2.4 Hipotesis Penelitian
Berdasarkan teori dan penelitian terdahulu maka Hipotesis yang
dapat di rumuskan dalam penilitian ini adalah
- Diduga harga Air bersih sengat berpengaruh positif terhadap Permintaan Air Bersi.
- Diduga Jumlah penduduk berpenaruh positif terhadap Permintaan Air Bersi.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Lokasi dan Waktu Penelitian
3.2. Jenis Dan Sumeber Data
Penelitian ini
menggunakan data sekunder dengan jenis data time series yang diambil
dari periode 2014 sampai dengan tahun 2017 untuk data jumlah pelanggan.
Data tersebut diperoleh dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) dan jumlah
penduduk Kabupaten Maluku Tenggara Data tersebut diperoleh dari Badan Pusat
Statisik.
3.3 Rancangan Analisis Data
Untuk
mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan Usaha Kecil di
kabupaten Dairi digunakan persamaan regresi linier berganda (multiple lenear
regression).Variabel terikat (dependent variable) dalam penelitian ini adalah
permintaan air bersih dan sebagai variabel bebas (independent variable) adalah
harga air dan jum.lah penduduk. Untuk itu fungsi persamaan yang digunakan dalam
penelitian ini adalah:
AB= f {HG,JP }
..........................................................................
(3.1)
Selanjutnya
fungsi tersebut dispesifikasikan ke dalammodel logaritma sebagai berikut :
Y = α0+ α1HG +α2JRT+ μ
........................................... (3.2)
Dimana :
PAB= Permintaan Air Bersih
HG= Harga
JRT= Jumlah Rumah Tangga
μ= Kesalaan Pengganggu
α0, α1,α2= Koefisien Regresi
3.4. Test Goodness of Fit
Estimasi
terhadap model dilakukan dengan menggunakan metode enter yang tersedia pada
program statistik Eviews Versi 4,1. Koefisien yang dihasilkan dapat dilihat
pada output regresi berdasarkan data yang dianalisis untuk kemudian
diinterpretasikan serta dilihat signifikansi tiap-tiap variabel yang diteliti.
Pengujian
statistik dilakukan dengan menggunakan uji statistik Uji-t (t-test) dan Uji – F
(F-test). Uji – t dimaksudkan untuk mengetahui signifikasi variabel secara
partial, sementara Uji – F mengetahui signifikasi statistik secara serentak,
Uji R2 bertujuan untuk mengetahui seberapa besar kekuatan variabel bebas
menjelaskan variabel terikat.
3.5.Uji Penyimpangan Asumsi Klasik
Ada
beberapa permasalahan yang bisa terjadi dalam model regresi linier, yang secara
statistik permasalahan tersebut dapat mengganggu model yang telah dilakukan,
bahkan dapat menyesatkan kesimpulan yang diambil dari persamaan yang terbentuk.
Untuk itu maka perlu melakukan uji penyimpangan asumsi klasik, yang terdiri
dari (Insukindro, 2000).
3.5.1
Uji Normalitas
Pengujian
Normalitas Data bertujuan untuk mengetahui apakah suatu variabel normal atau
tidak. Normal disini dalam arti mempunyai distribusi data yang normal. Normal
atau tidaknya berdasar patokan distribusi normal dari data dengan mean dan
standar deviasi yang sama. Jadi uji normalitas pada dasarnya yakni melakukan
perbandingan antara data yang kita miliki dengan data berdistribusi normal yang
memiliki mean dan standardeviasiyang sama dengan data yang kita pakai.
Data
yang mempunyai distribusi yang normal merupakan salah satu syarat dilakukannya
parametric-test. Untuk data yang tidak mempunyai distribusi normal tentu saja
analisisnya harus menggunakan non parametric test Selain itu data yang
mempunyai distribusi secara normal berarti mempunyai sebaran yang normal pula. Dengan
profil data semacam ini maka data tersebut dianggap bisa mewakili populasi.
Untuk
mengetahuiapakah data yang kita miliki normal atau tidak, secara kasat mata
kita bisa melihat histogram dari data yang dimaksud, apakah membentuk kurva normal
atau tidak.Tentu saja cara ini sangat subyektif.
Uji
normalitas data yang digunakan di sini adalah uji Jarque Bera. Tahap uji Jarque
Bera dengan menggunakan Eviews secara ringkas adalah sebagai berikut :
a. Formulasi hipotesis
H0: distribusi utnormal
HA: distribusi u tidak normal
b. Menentukan tingkat signifikansi (a)
c. Menentukan kriteria pengujian
H0ditolak jika prob. JB £ a, H0diterima jika prob. JB > a.
d. Kesimpulan
3.5.2
Uji Multikolinieritas
Interprestasi
persamaan regresi linier secara implisit bergantung pada asumsi bahwa variabel-variabel
bebas dalam persamaan tersebut tidak saling berkorelasi. Jika dalam sebuah
persamaan terdapat multikolinieritas akan menimbulkan beberapa akibat, untuk
itu perlu pendektesian multikolinieritas dengan besaran-besaran regresi yang di
dapat, yakni :
1. Variasi besar (dari taksiran OLS)
2. Interval kepercayaan lebar (karena
variasi besar maka standar error besar sehingga interval kepercayaan lebar).
3. Uji t (t-rasio) tidak signifikan,
suatu variabel bebas yan signifikan baik secara substansi maupun secara
statistik jika dibuat regresi sederhana, bisa tidak signifikan karena variasi
besar akibat kolinieritas. Bila standar error terlalu besar maka besar pula
kemungkinan taksiran koefesien regresi (a1 – a4) tidak signifikan.
4. R2 tinggi tetapi tidak banyak variabel
yang signifikan dari Uji t
5. Terkadang nilai taksiran koefesien
yang didapat akan mempunyai nilai yang tidak sesuai dengan substansi, sehingga
dapat menyesatkan interprestasi
.
3.5.3 Uji Heterokedastisitas
Salah
satu asumsi pokok dalam model regresi linear klasik adalah homokedastisitas
atau varian yang sama. Salah satu metode yang dapat digunakan ada tidaknya
heterokedastisitas dalam satu varian error term suatu model regresi adalah
metode Park.Heterokedastisitas dalam penelitian ini dideteksi dengan mengamati
tampilan grafik (scatterplot). Tidak terdapatnya pola yang jelas dan
titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y menunjukkan
tidak terjadinya heterokedastisitas pada model regresi. Sedangkan adanya gejala
heterokedastisitas ditunjukkan dengan adanya pola Scatterplot yang dapat
terlihat jelas.Jika model estimasi memiliki gejala heterokendastisitas maka
kita dapat membuat kesimpulan yang salah dari interpretasi, karena estimasi OLS
yang ada tidak lagi BLUE
Definisi Operasional
Untuk
memudahkan pemahaman terhadap istilah dan variabel yang digunakan dalam
penelitian ini perlu diberikan batasan operasional sebagai berikut :
1. Permintaan air bersih adalah jumlah
kebutuhan/pemakaian air bersih oleh masyarakt perbulan berdasarkan M (Y)
2. Harga Adalah harga air bersih dalam
satuan pemakaian M3 yang dijual kepada pelanggan. (X1)
3. Jumlah rumah tangga adalah jumlah
pelanggan yang ada di kecamatan Medan Timur yang memiliki keluarga (X2)
.
DAFTAR PUSTAKA
Badan
Pusat Statistik. Berbagai Tahun. Produk Domestik Regional Bruto Kota Tual.
Boediono.
1992. Teori Pertumbuhan Ekonomi. Yogyakarta: BPFE.
Endang
Rahayu, Sri. 2011. Analisis Pengaruh Pengeluaran Pemerintah Terhadap
Pertumbuhan Ekonomi di Sumatera Utara. Medan.
(Lasminingsih,
2004). Jurnal Manajemen dan Bisnis Gathama Putra, Noris. 2010. Pengaruh Belanja
Modal Dan Belanja Operasi Terhadap Laju Pertumbuhan Ekonomi Di Provinsi Jawa
Tengah (2005 –2008). Semarang. Universitas Diponegoro
Halim,
Abdul. 2004. Akuntansi Keuangan Daerah, Edisi Revisi. Medan: Universitas
Sumatera Utara.
Hendarmin.
2012. Pengaruh Belanja Modal Pemerintah Daerah dan Investasi Swasta terhadap
Pertumbuhan Ekonomi, Kesempatan Kerja dan Kesejahteraan Masyarakat di Kabupaten/Kota
Provinsi Kalimantan Barat. Pontianak: Universitas Tanjung Pura
Muljadi,
AJ. 2012. Kepariwisataan dan Perjalanan. Cetakan ketiga. Jakarta: Rajagrafindo
Persada.
Keefer,
Philip. 2003. The Political Economy of Public Expenditures. Background paper
for WDR 2004: Making Service Work for Poor People. The World Bank.
Kuncoro,
Mudrajad. 2004. Otonomi dan Pembangunan Daerah. Penerbit Erlangga.
Kuncoro,
Mudrajad. 2008. Pengolahan Data Panel. FE UGM. Yogyakarta: Erlangga
Kurniawan,
Agus. 2010. Analisis Alokasi Belanja Modal Pemerintah Terhadap Pertumbuhan
Ekonomi Kabupaten/ Kota Di Jawa Barat. Bandung: Salemba Empat.
Mangkoesoebroto,
Guritno. 2010. Ekonomi Publik Edisi Ketiga. Yogyakarta: BPFE Yogyakarta.
Prakarsa,
Dwi Febrian. 2014. Analisis Pengaruh Pendapatan Asli Daerah dan Pengeluaran
Pemerintah Daerah Terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Kab/Kota Jawa Timur. Malang.
Universitas Brawijaya
Rahmansyah,
Armin. 2004. Analisis Pengaruh Pengeluaran Pemerintah Daerah Terhadap
Petumbuhan Ekonomi Provinsi-Provinsi di Indonesia. Medan. Universitas Sumatere
Utara
Saragih,
Juli Panglima.2003. Desentralisasi Fiskal dan Keuangan Daerah dalam Otonomi.
Jakarta: Penerbit Ghalia Indonesia.
Simanjuntak,
Robert, 2000. Decentralization and Local Outonomy. Makalah Work Shop
Otonomi Daerah, Kerjasama LPEM- UI dan IRIS Jakarta.
Sodik,
Jamzani. 2007. Pengeluaran Pemerintah dan Pertumbuhan Ekonomi Regional. Jokyakarta.
Jurnal Ekonomi Pembangunan
Sulistyowati,
Niken. 2010. Dampak Investasi Pendidikan Terhadap Perekonomian dan
Kesejahteraan Masyarakat Kabupaten Dan Kota Di Jawa Tengah. Bogor: Institut
Pertanian Bogor.
Sukirno,
Sadono. 2011. Makro ekonomi Modern.Bandung: Universitas Padjajaran
Sugiyono.
2000. Metode Penelitian Kuantitatif, Pendekatan R&D. CV Alfabeta.
Tarigan,
Robinson. 2014. Ekonomi Regional. Jakarta: Bumi Angkasa
Todaro,
Michael P. 2000. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga, Buku 1 Edisi
Ketujuh. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Tri
Haryanto. 2005. Pengeluaran Pemerintah dan Kinerja Sektor Pendidikan serta Kesehatan
di Jawa Timur. Majalah Ekonomi, Tahun XIV No.2. Fakultas Ekonomi Universitas
Airlangga.
Wibisono,
Yusuf. 2005. Metode Statistik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Widarjono,
Agus. 2007. Ekonometrika: Teori dan Aplikasi. Jogyakarta.
Yunan.
2009. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi. Jogyakarta
Yoeti
Oka A. ( 2001 ) pengantar pariwisata
bandung. Angkasa

Komentar