Cerpen Suatu Malam
Suatu Malam
Getaran Hp di kantong celana, mengusik sebuah perbincangan hangat, “Beta udah di depan Kantor Dispenda?” deretan kata yang nampak di kotak masuk. Sejurus perbincangan itu terhenti. Saya menyalahkan mesin motor dan memutarnya menaiki tanjakan jalan setapak. Meninggalkan salam di teras rumah dan sang pemilik motor. My best Friends ‘3-say’
Ketika sampai di pertigaan jalan. Nampak dua perempuan berjilbab, menghentikan motornya, tepat di belakang mobil Avanza. Senyum mengawali laju motor ke arah mereka. Dikendarai oleh gadis cilik, Irma namanya. Sedangkan Kakanya (Enny), duduk manis dibelakang. Kata pengantar jadi topik awal perjumpaan. Setelah selesai berbincang-bincang, saya mengutarkan maksud kepada Irma, untuk mengajak kakanya jalan-jalan. Tampak dia ragu-ragu dan banyak bertanya, namun akhirnya ‘Surat Izin’ keluar juga.
Sebuah sms bergetar, berisi pesan senyoritas yang ada di kost. Kamipun melajuh ke sinar pagi dan menaiki tanjakan di kanannya dan mengarah ke Mangon. Sesekali hembusan angin, menusuk sampai ke tulang-belulang. Suhu malam begitu mencengkam, namun semua itu terasa menyejukan dengannya. Udara dingin telah tenikmati oleh hati yang sedang berbunga-bunga. Memang sudah cukup lama, saya merindukan saat seperti ini.
Usai menyampaikan pesanan, kami melaju kembali ke kota. Hiruk-piuk kendaraan lalu-lalang dari kedua arah yang berlawanan. Saya sengaja memperlambat kecepatan, agar dapat mendengarnya dan menikmati perjalanan. Menyusuri kembali jalan yang tadi di lalui dan melewati tempat berhenti semula dan melaju ke ibukota Kabupaten Maluku Tenggara. Ketika menuruni tanjakan, dia merangkulku kawan. Padahal udara di jembatan itu, mendinginkan sekali, namun aku tak dapat merasakannya. Dahsyat peluknya, mampu hilangkan rasa-rasa yang lain dan hanya merasakan peluknya. Sejuk Paskali!
Kami sedang mencari warung Sate dan lagi mengarah ke Perumnas. Jalan tenggiri, begitulah nama gang perumahan yang terdapat salah satu warung satenya. Fagar ee! Ternyata satenya telah habis. Kamipun mengarah ke depan Bank BRI, terdapat beberapa warung disana. Saya mengendarai motor mengikuti jalur lalu lintas, sengaja tidak menabrak jalur. Satu lap putaran di watdek-lah yang jadi alur, supaya pelukan itu tetap terjaga. Setibanya disana, Adoohhhh! Tidak ada sate juga di tempat ini. Memang pelukan itu tidak boleh di lepaskan lama-lama, hehehe:D.
Kembali mengarah ke kota, mengikuti jalur yang tadi pula. Satu harapannya, agar dapat ditemukan pada deretan warung yang ada di tanah putih. Perlahan-lahan memacu gas motor, mendengar cerita-ceritanya sambil menghirup bekunya malam.
Terlihat dari kejauhan, beberapa motor terapngkir didepanya. Saya mempercepat laju motor dan memarkirnya sesuai barisannya. Salah satu warung, terdapat seorang senior kampus didalamnya dan kami beralih ke warung yang disebelahnya. Saya memepersilahkan dia untuk sebentar dan balik mengambil sesuatu dari balik jok motor. Nampak senyum tersirat diwajahnya dan dihiasi dengan lesung pipit yang membuntal. Saya menyerahkan sebuah buku novel di atasnya meja. Kemudin, kami menyantap hidangan favoritnya itu sambil menonton film laga di indosiar. Namanya juga warung orang jawa, pastinya suka tontonan kayak ginilah. Saya mulai merasakan keanehan ketika sedang mengunyah sate. Rasanya inilah, pertama kali saya mengajak seorang perempuan, apalagi Dia. Benih-benih cinta tumbuh perlahan, setiap kali membalikkan pandangan kearahnya. Kalau di-ingat-ingat, memang tidak salah saya pendam rasa, hingga setahun kepadanya. Sejak pertama kali, saya melihatnya dan kenalan dengannya. Netri Yeni Bakari………….!!!
Karya Wisnu R
Karya Wisnu R

Komentar