Cerpen







Buka Sasi




Malam itu beta berada di sebuah rumah kecil sedang asik menikmati segelas kopi sambil bercerita tentang pekerjaan di kebun. Tiba-tiba kami mengentikan pembicaraan lantaran kaget dengan sebuah suara besar. Ya suara marinyo desa. Bisanya suara marinyo desa hanya menyapaikan hal penting kepada keseluruan masyarakat desa. Penasaran! beta dan teman-teman langusung berjalan ke arah dimana suara itu bersumber. sebenarnya pengumum apa yang nantinya akan di sampaikan! Dibenak beta bertanya. Katong mendekat hanya untuk lebih mengetahui isi pengumuman yang di bacakan nanti oleh marinyo.
Meski di katakan klasik, informasi ini  Secara turun temurun masyarakat di kei pada umum sudah mengenan sistem informasi
Dalam satu persidangan adat yang di pimpin langsung oleh kepala desa, biasa desa  punya komitmen 
Ada ketentuan khusus dan unik ketika sasi lola itu di buka yaitu ketentuan bahwa kerang lola dengan ukuran garis tengah  kurang dari lebar tiga jari, sekitar 5-6 cm tidak boleh di ambil dan wajib dilepaskan kembali ke laut untuk mencari hidup. Upaya membudidaya kerang lola kecil semata-mata tidak cepat punah.
Isi kerang lola akan di makan, kulinya akan dijuang bernilai tinggi sebagai sala satu bahan expor untuk di produsi di luar degeri membuat berbagai jenis produksi yang bernilai tinggi.
Suasana patai begitu ramai malam ini.  Lampu-lampu gas dan sender remarang-reman mengiasi dari arah meti.  menderu-deru, menyambut kata “fil fo bok.” Yang mengadung arti pilih baik-baik. tradisi yang di tinggalkan dari moyang ini menjadi gantungan harapan mata pencaharian penduduk desa kalau saat.(buka sasi lola) begini. Sebagai bentuk sukur akan hasil yang berlima rua itu. namun dibalik huiruk-hiruk kebahagian penduduk desa, beta  menyaksikan teman joni yang kembali mengijakan kakinya di tanah kelahiranya. beta tatap joni lama bediri dengan satu tatap ke laut. Sudah begitu, kata seorang yang perjalan menuju meti itu, berkata.
O li’ik afa kah”
“Kamu liat apa!”katanya kasar sambil menyalakan cahaya senter mengena muka joni. matanya melotot tajam kearah joni dengan kobaran dendam yang belum terhapuskan kemudian lekas merjalan meningalkan joni. Kemikinan kata pria ini yang membuat joni
malam itu tak ada jawaban dari joni untuk membalas kata-kata kemungkinana joni tepukul malu untuk melibatkan dirinya dalam memanen kerang lola. Beta tahu berapa beri hati joni ketika mendengar perkataan demikian. meski pandangkan diatas bintang-bintang yang bergantungan di langit menghiasi awam gelap. Sampai siapa saja ingin menikmati suasana indah malam itu. tak tahu berbuat apa, Benak  menjerit lantas terus coba melangkah kaki arah joni, atau tidak. Masih menganjal dalam keputusan, lantas didesa ini joni yang pada awal memenuhi hati lantaran di ceritakan ini dan itu. tak tegah melihat keadaan joni yang terus-terus dipojokan oleh warga desa.
Menantang keputusan pikiran terus mendekati joni sebagai seseorang yang masih memiliki perasaan, meski pun pikiran menerima bahwa telah menantang ketetapan yang dibuat terlebih dahulu oleh moyang, orang seperti joni tak bisa untuk didekati apa lagi sampai bicara akrap padanya. Beta tahu dampak dari semua ini, hati yang memutuskan pikiran hanya menjadi penerimaan  kosukwansi tetang apa yang terjadi nanti bila penduduk desa menliat beta bersama joni.
Buka sasi lola kali tidak beta nikma sebagai mana panen yang lalu-lalu. Beta mengajak joni untuk bergi ke suatu tempat mungkin saja dia bercerita tentang dirinya disana. Sebab pasti ada alasan yang membuat joni datang kempali ke desa setelah tiga tahun lamanya tak berada di desa, karena ulah perbuatan joni sendiri. Kami berjalan menuju suatu tempat yang berada sedikit jauh dari laut. Tepat di lapangan desa beta duduk berhadapan dengan joni. 
“dimana tanah yang beta lahir dulu, ketika suara tangisan seorang anak yang begitu deras di sambut dengan tawa riah. Seolah senangang Menyambut kedatangan putra desa ini, lalu beta di beri nama dengan memikul satu nama di belakang sebagai mana kalian juga memikulnya. Mengapa beta harus di asingkan seperti ini.” Malam itu, oleh teman joni  menghamburkan kata-kata yang mendalam. beta melihat betapa cegengen seorang pria megeluarkan air dari mata di hadapan beta. Beta ikut merasakan kesedian itu.
“jangan bicara begitu.” Perlahan beta bangkit. Menghampirinya dengan air yang mengubal dimata tanpa isak. beta raih tangan  joni dan sontak dia merangkul beta, menangis terisak di bahu beta. Layak seperti kekasih yang memeluk pacarnya. dulu joni kecil yang nakal sering membuat menegis kelompok bandit-bandi hinga mereka mengadu pada orang tua. Kini joni kembali mengadu hal kisahnya pada beta. Beta merasa lebih tua, Padahal usia beta lebih mudah dua tahun darinya.
“Tuhan masih mengampuni bukan mengapa kitong sebagai hamba tidak” Tiba-tiba beta tidak tahu bagaimana untuk membuka mulut . tapi beta harus beritahu apa yang dia pikirkan itu salah. Beta mulai tamba berbersedih lalu keluarkan air mata pelan-pelan, tapi beta hanya menguraikan air mata tanpa isak yang menderu.
“Bukan... bukan tetang mereka. Ini adalah pelajaran bagi katong. Ose tahu beta berfikir tadi tidak harus mendekati ose karena konsukwensi nanti seperti apa. Ini jalan hidup, yang mesti beta pilih. Ketika tersesat masih punya jalan untuk kita kembali.  Tak patuk kitong salahkan siapa-siapa dalam hidup. dimana hidup ada sebab dan akibat.” Sekedar selingan ada cerita tersendiri mengenai sejarah. Joni melepaskan rangkulanan lalu duduk sambil menaikan bajunya mengerikan air matanya.
“Itu menurut ose. Mukin bisa berbicara begitu tapi ose sengperna ada di posisi beta. Coba ose berada beta apa yang ose rasakan ini akang pu pahit saja e.” Joni mulai mara pada beta Dia berteriak sepertinya dia ingin mengusir beta dari tempat ini Beta tahu dia inggi mengetahui apa yang dijelaskan harus detail mukin, namun beta tak punya cukup refensi untuk ini. Beta coba menguatkan dia terus berkata-kata.
“Sudah pasti akan baik saja”
“Jujur beta sudah  lama terbebani dengan hal ini, butuh waktu kapan untuk baik. Lebih baik beta di penjarakan supaya beta tahu kurungan itu seperti apa. Dari pada bebas tapi dirumah saja tidak ada yang bicara sama pada beta terkecuwali mama saja. beta paling malu dengan maitua. makanya beta datang dengan kecil saja.”
“Wee la kecil ada datang dengan ose itu kah, beta belum lihat kecil ini .”
“Iya. beta kurang enak dengan bahasa. Ado beta rasa kaya hidup tar berguna lai.”
“Jang terlalu ambe di hati”
“Mukin ose bisa bilang begitu. Ose seng rasa jadi” katanya mengulang. membuat mara.
“bukan begitu. ose datang di kampung ini saja beta sudah senang. Lah ose masih bisa berada di kampung ini te” jujur aku mulai jengkel dengan joni. Dia tak tahu sebenar beta beta kasing dengannya.
Sehabis kata joni langsung pergi dan tak perduli dengan teriak dari beta, padahal beta masih ingin becerita dengannya. Mukinkah dia tersingung dengan pembicaraan beta tadi. Beta berdiri kebingungan menataap joni perjalan pergi. Seketika rasa bersalah memilin-melin beta pung hati.  tiga langkah kearah belakang lalu kembali menetap joni.
Kesedian joni bermula dari perbuatanya sendiri. Mau apa dikata beta tak bisa berbuat banyak untuk joni. Sepi yang beta tatap engang buat berada lama disini. Lekas-lekas beta meningalkan tempat ini dan berlari ke arah pantai.
Keringat di kening mulai merembes keluar, punggung beta mulai basah. Setelah tiba di tepi pantai, beta berhenti dan memandang ke arah meti laut. Akhirnya beta masih punya kesempatan untuk memanen kerang lola. Dari pada memandang begitu saja tak mendapatkan hasil apa-apa. Lagian ini kan adalah sala satu pendapatan besar yang kujung di dapat setahuan sekali.
Meski masih dua hari lagi baru sasi kerang lola akan di tutup tetapi biasa hari berikutnya kerang lola telah berkurang, ada pun yang bisa dapat harus menyelam kedalam air laut. Sedangkan beta tak sangup untuk menyelam pada ketinggi laut yang dalam. Beta paksakan diri agar malam ini harus mendapatkan cukup hasil. Sebab beta punya impian untuk membeli sebuat Tep Kaset.
Ternyata nasib baik sedang berpihak pada beta. Gerang lola itu sudah tertumpuk beraturan di dalam lubang karang besar. Smentara di samping karang beberapa kerang lola terlihat. Akhirnya hasil yang mampu dikumpulkan malam ini sekitran 8 kg. 





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gempa Maluku Tanggapan Menteri Polhukam

Lagu Gugusan Kepulauanku

Contoh surat pelepasan tanah