sunyi yang hilang part 2

 PART 2

Ramadan berharap hal inilah yang kemudian harus di terapkan dalam kehidupan kesehariannya. bersama  keluarga, nalar yang sadar bahwa menegakan sebuah kebenaran adalah sebuah kewajiban bagi para insan  yang berhati mulia termasuk kita. Dan jujur mendengar cerita-cerita oleh sebagian besar orang tentang kehebatan ayah itu, bangga sekali mmemiliki orang tua yang bisa menuntun anaknya untuk melakukan hal-hal yang menjauhkan diri dari malapetaka dan dosa.

malam itu amatlah susahnya hati ayah.  amat mencintai anaknya yang dua orang itu, begitulah sosok pemimpin dalam keluarga kecil itu.

Uluh. Di rumah dulu deh, ayah minum kopi ini bikin ayah bunya badah agak ringan” berdiri dari tempat duduknya.

“Iya Ayah.” Meliha ayah keluar pintu. Dan secara bersamaan di tengah perjalan ayah ke rumah bertemu dangan samsul.

“Paman” teriak samsul langsung mejabat dan menciuma tangan ayah ramdan. Mengankat wajahnya.

“e nak Samsul.” Terdiam sejenak “tadi padam ada cerita-cerita sama Ramdan di rumah. Singgun juga nama se.” menepuk bahunya samsul “makasi atas se pu roko deh”

“Haha iya paman” bertika malu lau menyalajuan perkatan “Ramdan ada di rudah?”

“Ada di rumah itu”

“Begitu beta pergi cerita dengan dia dolo deh. Paman”

“Iya paman juga mau pergi liat se punya bapak”

“Bibi di rumah juga itu paman”

“Ramdan e,” teriak samsul dari samping rumah

“Oh” jawab ramdan dari dalam rumah. Kemudian ramdan keluar. “Sam se masuk. Minup apa. Juss, teh kopi atau sopi.” Katanya bercandan.

“haha. Mas pelayan mita kopi enak dua” ikut bercanda dengan ramdan

“Mau duduk suang tamu apa di kamar saja”

“Se pi bikin kopi sana dulu kah” perinya samsun dangan canda.

Seraya samsul melihat seisi rumah papan itu, yakni ke pintu kamar ramdan.Ada Tulisan kapitalter papang rapi tepat di tengah pintu, “BETA INGGIN KILIAH”   tentang jeritan hatinya, dengan keinginan kuat demi pendidikan. tulisan bisu itu, ditulis dua tahun lalu. yang tak diceritakan kepada siapa pun kejuali bagi mereka yang hendak datang dirumah dan melitnya sediri.

Terkagum-kagum samsul dengan tulisan itu, untuk memberikan penghormatannya rasa ibah muncul dalam hati kecilnya. Sembari jalan masuk dalam kamar. Samsul duduk di jendelah yang terbuka luas pada malam itu. kepalannya disandarkan di tiang jemdela.

Setelah beberapa menit kemudian ramdan membawah kopi dalam beker dengan dua gelas, rupanya kopi yang dibuat ibu tadi masih hangat.  masuk dalam kamar. Lalu memulai mencerita tetang masa-masa yang mereka lewati sewaktu di kota Tual semenjak SMA. beberapa berbicara diganti-ganti sampai kopi mengering di kelas. Semua mata penduduk desa sudah tertutup lelap. Ayah dan ibu ramdan juga sudah pertidur setelah pulang dari rumah samsul.

Hitam mengadu rasa. Mampu bertahankan mata. Lagu-lagu harmoni loela drakel yang keluar dari hanspone samsul itu menambah suasana mengharukan Meski dalam penderitaan dalam batok kepala hilang. Damai menjadi simponi yang disenandungkan alam buta, Udara dingin menyelinap ke dalam pori-pori di subuh itu, tinggalkan bias senyum beku di wajah. Tetes-tetes embun jatuh membasahi dedaunan, Mengusik rasa untuk menjamah. Mereka keluar dari kamar Ramadan mengunakan jeket ayahnya dengan sebuah senter yang di pengang.

Usai keluar dari rumah Ramadan, mereka langgsung menuju rumah samsul mengemasih barang-barang bawaan. Tak lama Samsul membawa ransel belakan milikinya kemudian keluar, sedangka ayahnya harus menunggu kenderaan.  Merekapun melanjutkan perjalan. menjadi terbiasa mendaki gunung-gunung agar dapat sampai di desa seberang. sebelum sang fajar menampakan diri.

Perjalanan ramdan dan samsul sudah cukup jauh di bukit, udarapun di subuh mendingkan. Seperti biasanya, terasa sempurna bila melawna dinggi  dengan sebatang rokok. Bila mana subuh itu nampak ramai sekali, penduduk desa yang berbondong-bondong mengantarkan saudaranya dari empat desa seberang dan para  penunpang kapal pun perjalan kaki. Sebab jalanan di desa itu sudah rusak parah, batu-batu yang dulunya melekat pada aspal kini terlepas keluar menjadi kerikil-kerikil yang berserakan di mana-mana. kendaraan pun terbatas hanya terdapat dua buah kendaraan bermotor milik penduduk desa seberang, yang di gunakan untuk mengangkut barang muatan Serta orang sakit saja. Kebetulan ayahnya Samsul ikut juga dengan kedaraan itu. Kali ini bukit terakhir sebelum masuk desa, pandangan ramdan dan samsul ke laut lepas. Semuanya hitam hanya saja ada beberapa lampu-lampu Bagan ikan dan beberapa lagi lampu gas yang di gunakan masyarakat desa untuk menjari ikan di Meti. Senter milik mereka di ayunkan sebagai pemberian tanda salam “kami dari desa seberang datang.” Sambutan senter dari meti pantai itu seakan. “salamat datang.” Sedangakn Kapal kayu telah berlabu jauh dari meti  pantai.

Sesampai di dalam desa, para penumpang harus membawah barang-barang muatan melewati metih pantai jauh itu. agar dapat sampai di kapal kayu yang berlabu di laut. Memang sampai saat ini belum ada jembatan di desa tersebut. Belum ada lirikan pemerinta untuk membagunan di desa-desa kei besar, sampai-sampai orang sakit seperti ayah samsul harus melawan penyakinya sindiri agar samapai di rumah sakit langgur caranya seperti begitu. Padahal berkali-kali sudah Berganti kepemimpinan. tapi ini sebuah cerita klasik. ambisi menutupi tenutupi telinga penguasa seoleh tuli, doktrin sangpenguasa mengejar kursi kekuasaan pun dengan cerita yang sama. Janji tinggalkan membentuk cara yang lain. Kalau bukan hukum rajam di berikan bius pelan-pelan. Mana pemimpin kita yang berganti-ganti itu.

Di tepi patai itu, tangan nyiur melambai bagi mereka yang berpergian. sebagai ada yang menjatukan air mata karna taktahan dengan perpisahan. selama jalan Semoga sempai tujuan dengan selamat. Dan sampai jumpa kembali di lain kesempatan. bumi dan tanah negeri ini masih menggu mereka yang pergi untuk melihatnya kembali. Bila telah sampai ke tempat tujuan ceritakan negeri ini dengan apa yang engkau makan dan dengan apa yang kau miminum. Karena di uratmu di uratku juga darah ini mengalir.*****

 

 

Seminggu sudah ayah Samsul di kota berobat, kini telah kembali pulang. rubanya kesembuhan penyakit yang dialaminya turut membawah kabar sejuk dari Samsul. untuk di sampaikan pada ramdan. Tak cuman itu, Samsul juga telah mengirimkan  beberap lemar pakaian yang di belinya sebagai bikisan ole-ole buat Ramdan melihat dia tak inggi melihat Ramdan datang ke kota mengunakan pakain yang telah kusut.

Semenjak dahu suku mereka memahami arti kekeluargaan. Kekeluargaan pada masyarakat adat mereka dalam arti yang luas  mencakup seluruh dimensi kehidupan manusia, dan tidak hanya terbatas pada  bentuk kekeluargaan secara  biologis, dan bahwa semua orang berasal dari keturunan yang sama. dari sistem adat seperti itu, membentuk karakter, prinsip, dan sikap hidup masyarakat mereka secara turun temurun. Sikap rela menolong ini terjadi secara spontan, tanpa meminta lebih dulu. semua orang  yang  merasa  terkait  dalam kekerabatan  demi kelestarian hubungan dengan orang di sekitarnya. Dengan demikian, ada perasaan karena budih seseorang di tempatkan dalam lubuk  hati,  agar dia dekat dengan kita. Dan ucapan terima kasih suku setempat tidak di ucapkan secara langsung, bahwa sanya kebaikan orang lain perlu dibalas dengan kebaikan pula.

mereka percaya  bahwa  orang  lain akan membantu. dan rela menolong  yakni dengan membatu orang lain. Semangat kekeluargaan dan kekerabatan Samsul dan Ramdan sebagai anak adat yang memelihara kebudayaan dalam tingka-laku mereka sebagai perwujudan dari falsafah hidup suku mereka, (saudara).

Bila mana kesempatan datang ramdan mengingginkan menangkap kesempatan yang baik itu setelah membicarakan semua dengan ibu dan ayahnya dalam beberapa malam, sesudah pesan itu disampai barulah di penuhi.

Mengunakan pakaian yang di kirimkan Samsul. Subuh itu ramdan dan ayahnya menuluri jalan yang sama, dengan keramaian yang sama, hanya saja di puncak bukit sebagain gerombolan penduduk desa itu harus perlindung di balik pepohon besar, sebab hujan gerimis turun membasahi bukit lebih mengigilkan dari biasanya. Sedangkan sebagian lagi menerobos hujan dan tak peduli..

Ayah Ramdan memutuskan untuk berlindung sejenak di balik pepohon besar, tetesan-tetesan hujan itu jatuh dari dedaunan satu persatu membasahi mereka  meransang kedinginan bertambah. Ramdan mengambil roko dari katong celananya seperti yang biasa terjadi. Ketetika itu suara-suara keramaian penduduk desa memanggil-mangil agar cepat turun di desa. Kini penduduk yang berlindung di balik pohon harus tergesah-gesah turun menuju pantai.

Mengikuti dari barisan terbelakang, terus berjalan di atas air yang surut panjang itu. menuju sebuah perahu kecil milik warga desa setempat, serta mengisi barang-barang di bawahnya.

Diatas perahu kayu kecil ayah berpesan “uluh. Ayah tahu Tual dan kampong ini, tidakah jauh. Seperti keluarga banyak yang harus ke Papua, ambon bahkan jakarta. Kalau pun Tual hanya menempuh beberapa jam saja. Tetepi uluh sudah jauh dari pengawasan ayah. Dulu mukin uluh SMA masih di awasi oleh bibi dan kaka Wahyu. tapi kali ini uluh pergi untuk kerja. Sehinga ayah punya kata ini uluh  harus ingat. Hindari pergaulan yang erat dengan orang jahat deh. Karna sesunggunya mereka membawah masalanya buat uluh nantinya. Hidari juga orang pelit karna sifatnya tidak membatumu, dan jangan mencelah orang lain, sebaik memuji orang lain saja, Itu lebih baik.

“Iya ayah. beta ingat pesan-pesan ini” hatinya terharuh dan merenung beberapa detik. Tiba-tiba memeluk ayahnya,

Samapan yang di dayung itu telah mendekati kapal kayu. Di atas perehu itu ramdan mencium tanggan ayahnya, dan berkata. “ayah dengan mama jaga kesehatan baik-baik deh. Nanti beta kirim-kirim pesan kalau ada orang ke kampung.” Setelah berdiri memegang kapal kayu itu. Dengan tatap ke arah ayah. Tak tahan rasa air mata memgupal di pelipis. Kemudian ia naik, memili untuk di anjuangan paling teratas. padangannya terus ke ayahnya. Yang telah ke darat dengan perahu kayu kecil itu.

“ya Allah sebagai maha pelindungi, lindungi kedua orang tuaku. Ungkapan hati Ramdan. Sambil malambai tangan pada ayahnya.

Kapal kayu kini telah bergerak menuju jangkar yang di tarik awak kapal, terus bergerak lagi meningalkan desa. Padangan ramdan itu tak perpaling sedikit pun dari desa. Desa semakin mengecil sampai tidak terlihat lagi oleh padangannya tetep sama.

dua jam kemudian kapal kayu itu masuk tajung kota Langgur para penung di dalam kapal keluar ada yang menelpon saudara meminta jembuat apa juga yang keluar menujuk saudaranya yang di luar karane telah membayar tikat kapal. Ramdan di kagetkan dari belakan dengan tangan yang di taru di bahunya “uang tiket” suara awak kapal.

“Berapa bang”

“Mahasiswa jadi dua pulu” secara spontan awak kapal melontarkan kata-katanya. Kerana usia seperti itu sering di jumpai di atas kapal.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gempa Maluku Tanggapan Menteri Polhukam

Lagu Gugusan Kepulauanku

Contoh surat pelepasan tanah