sunyi yang hilang 3
“Amin” lalu di serakan uang seberan lima pulu
ribu
“Barusan orang bayar bilang amin ini” lalu tersenyum
dan mengembalikan sisa. Sambung lagi setelah
pergi “adik makasi e”
“Io.
sama-sama” langsung pergi awak kapal itu melajutkan tagihannya. Beberapa menit kemudian kapal kayu
sandar di pelabuhan kayu watdek. Saat
keadaan ramai di atas pelabuhan kayu itu. Pandangan Ramdan kesana kemari, sedangkan Terikkan Samsul
dari atas pelabuhan dengan melambaikan tangan untuknya.
“Ramdan...Ramdan....” mengawunkan tangan.
Ramdan melihat pun turun dari kapal
kayu. Barang bawaannya sedikit, hanya satu buah karung dan tas kusut dibahunya.
Mendekati Samsul. “Sini beta bawa itu
karung.” Langsung saja di ambil dari tangan Ramdan.
“Dan se mau tinggal
dengan siapa? bibi sari atau di beta punya kamar kos saja! Tanya samsul selepas barang-barang di taruh di
atas motornya.”
Beta di bibi sari
dulu untuk beberapa waktu ini. Kebetulan dari lulus SMA sampai saat ini beta belum ke rumahnya.”
“Mantap. Naik lah katong
jalan sudah”
“se sudah
punya manyak kemajuan e”
“Barang kenapa!”
“Sudah bisa mengendarian motor dengan baik”
“Sudah nanti kalau katong ada waktu beta ajar se juga. Ini beta punya motor se juga.”
“Ado terima kasih Sam”
kendaraan itu berheti
di perempatan sebelum masuk di jalan utama. Karena kenderan begitu banyak
lalu lalang. Begitulah aktifitas di kota kalau pagi. “tual sudah banyak berubah deh” Kenderaan
itu kemudian melaju kembali.
“Ya betigulah” setelah masuk ke jembatan penghubung
antara pulau kei kecil dan pulau dulla. samsul
menujukan ke sebuah rumah kayu berhadapan dengan taman dan di sekelilingnya
ada laut. “dan liat tempat itu!”
memmalingkan wajah ke tempat tersebut dangan bibir yang bermocong ke depan.
“Yang mana” tanya ramdan
serta wajanya yang berpaling ke arah kiri taman.
“Rumah kayu itu” samsul
menurunkan gas motornya dan menunjut kembali.
“Rumah itu kenapa?” kembali
tanya.
“Tempat sejuta umat. dengan nama saraba. Tempat itu paling ramai di waktu malam. Liat saja kalau contoh kecil dari perantau itu,
datang ke sini berusaha tidak di liat seberapa bagusnya satu bangunan. Tetep
mereka lebih mencari pendapatan untuk hidupan mereka. walau mereka tidak
mengikuti pendidikkan formal seperti katong.
Tetapi mobil, rumah, dan mukin saja naik haji berulang-ulang kali. Itu karena
mereka paling tekum menjalangkan suatu pekerjaan.” Sepanjang jalan Samsul terus menjelaskan tempat itu pada Ramdan. setiba kenderaan berhenti di depan rumah bibi sari. Lalu
mempicaraan pun milai berhenti.
barang-barang
yang di bawah ramdan kemudian di
letakan di teras rumah, setelanya mengomandankan salam. “Assalamu alaikum bibi”
Walaikum salam.” Jawab bibi sari dari dalam
rumah dan berjalan
keluar dari dapur. “e Ramdan, samsul. Masuk te.”
Kemudian masuk lagi bi Sari ke dalam
kata lagi, Katanya.“bibi kasih turun kompor dulu” setelah
kelambali lagi “Ramdan se punya bapa dan ibu bagaimana kabar mereka! Sudah lama tidak mendengal abar dari merka.”
“Baik bibi” ramdan meraih
tangan bibi lantas dicium. Dan di susul samsul dari belakang, selepas bibi sari mengeluarkan seyum pada
samsul.
“Se jemput ramdan ini kah” tanya bibi
sari pada samsul.
“iya. Jadi
begini bibi ramdah datang di tual ini dia ingin kerja sama beta. Jadi
tadi beta tanya dia, tinggal dengan beta di kamar kontran. tapi dia bilang
sudah lama belum liat ponakan dong jadi katong
kesini” jelaskan samsul pada bibi sari yang agak terburuh-buruh.
“Oh iya. Dong masih sekolah, nanti ramdan Pake ponakan punya kapar belakang
sana. Ramdan se jangan malu-malu kaya
bibi ini orang lain saja.” selepas perkataan bibi sari di sambut samsul.
“Bibi
sari beta balik kerja dulu nanti selesai beta balik. Dan e!” Samsul meminta pamit.
“Ia samsul makasi lagi sudah antar ramdan deh.” Samsul hanya senyum tipis. Kemudian melanjutkan perkataanya lagi
pada ramdan.“Se bawah barang masuk di
usaman punya kamar. Nanti malam-malam
se ajarkan di untuk membaca, sudah SD kelas 6 belum lagi tahu baca.”
Bibi sari adalah adik kedua setelah ayahnya, beberapa tahun yang lalu dia
menjadi janda karena suaminya meningal dunia akibat sakit yang di deritanya.
Apa hendak di kata, ibu dua orang anak ini tidak memiliki pekerjaan tetap
sehingga untuk menyekolakan anak-anaknya dia harus kerja ekstra perharinya.
Sunggu derita yang di tanggun bibi sari, setelah tangungan jawab itu sendiri di
pikulnya. terdiam tak lagi mampu berbicara. segala semangatnya bawa serta. Untuk masa depan anaknya.
Sosok wajah ibu yang murah senyum padahal hatinya menangis karana kemiskinan
yang di deritanya.
Rumah bi sari nampak kecil dan sempit, Memang tidak manyak berubah dari rumah itu hanya saja di padati
dengan botol-botol ronsokan yang akan di buat berbagai macam seni untuk di jual.
Suwasana telah bergati mentari mejelang tinggi ramdan masuk ke dalam kamar meletakan tas yang diletakkan di atas sebuah meja
kecil bundar. Kemudian, menarik pintu kamar dan melangkah ke dapur dengan
menggenggam handuk biru puti. Sebab kondisi ruangan yang pengap. Mentari terasa sejingkal di kepala, apa lagi
selepas perjalan dari kampung yang betul-betul di sinari singatan terntari
tanpa penghalang satupun. Pintu kamar mandi itu di tutup dari dalam. Sedangkan
suara salam yang di komandankan kedua ponakan sedara bersamaan dari luar.
Usman yang masuk kamar melihat diatas meja belajarnya ada sebuah tas, itu sebab dia berlari ke sana ke mari mencari pemilik tas tersebut. Ketika ibunya melihat tingkanya itu berkata. “Se punya abang ramdan ada mandi.” Suara usman memangil-mangil terus “abang ramdan.. abang ramdan..” menuangkan kerinduannya dia relah menunggu tepat di pintu kamar mandi itu, dengan pakaian sekolahnya. Dan makan di mejah pun belum di sentuhnya. rinduan sosok kaka yang membagi kebahagian dengannya. Dimana dua tahun lalu yang mengantarkan dia keseloh tiap harinya. Setelah pintu kamar mandi itu di muka usman lansung memeluk abangnya. Ramdan tersenyum manis sambil menyapu-nyapu kepala usman, Lama tak berjumpa menuai rasa rindu yang dalam.*****
Saat
pagi menjelang datang bunyi
klason motor di depan rumah, megejutkan Ramdan
untuk keluar. setelah mengetahun Samsul
yang datang ia meminta untuk masuk menunggunya di dalam rumah. Bergegas ganti pakaian, menyarungkan jelana panjang
hitam dan baju biasa-biasa saja karena mungkin
bekerja di tokoh mengankat barang atau ngimana!
ia belum tahu dan sebenarnya ia belum punya cukup pengalan untuk itu. Kemudian, keluar kamar lansung ke ruang dapur, meminta
pamit pada bi sari. Tetapi bi sari memintanya untuk sarapan lebih
dulu sebelum berangkat.
Tak cukup lama untuk menghabiskan sajian diatas meja
itu Dua gelas teh manis dan dua buah roti gula. karenanya terburuh-buruh dengan hari pertama Ramdan masuk kerja, Kekawatiran dari benak Ramdan amat sangat besar. Ya begitulah sekap seseorang yang
bergantung pada pekerjaan disaat betul-betul menmbutukanya.
Disana tepat
depan toko bangunan bertuliskan sumber Rizki di sebuah papan besar yang
tergeletak diatas geteng yang agak karat. Rasa grogi
menyelinap masuk lebih dulu karena siap-siap Ramdan di hadapkan dengan pemilik toko. Pada hal setelah bertemu
dengan pemilik toko malah kekawatiran
itu lekas-lekas keluar dari jatung yang medenyut kenjang. Tanpa
biara panjang lebar langsung saja diterimah langsung untuk bekerja.
Setiap kali
yang ingin belajar hal baru butuh penyesuaian dan dasar kita pertama kali
seseorang kebingungan pada saat kerja, karena lingkungan yang belum kita kuwasai, apa lagi harus menuruti permintaan pembeli yang ini dan itu. Tapi proses, lama-lama
juga akan terbiasa dengan hal yang di rasakan Ramdan. Dibiasakan sesuatu menjadi kebiasaan. Ya seperti itu pedang
siring di asa, akan pula tajam.
Beginilah
aktifitas keseharian karyawan toko kalau Mentari menjelang turun, lagit-lagit mulai
kemerahan, petanda harus menutup toko. Memasukan semua
barang-barang kedalam dan memastikan tidak ada yang ketingalan di luar,
kemudian toko di tutup dengan berlapis slot, biar keamanan tetap terjaga. setelanya menyulusuri
jalan kepulang
Sesekali samsul mengajarkan
Ramdan mengendarai
sepeda motor milikinya ketika pulang dari toko. Tempat yang biasa di singga
adalah bekas lapangan bola kaki yang luas. biasanya orang-orang dekat menyebutnya Gotong
Royong, lapang itu sering di pakai untuk pertadingan musiman saja. Lebih
banyak dipakai untuk masyarakat sekitar melati mengendarai. Begitulah Samsul sering-sering melati ramdan
juga di lapangan yang sama.
Sampai dimana kemudian ada
sebuah
Avanza putih parkir tepat di depan toko
bangunan, dari Avanza putih itu turun
seorang wanita mengunakan setelan rapi. terlihat seperti wanita berkarir
yang bekerja di bank atau di kantor,
perusahaan Swasta, dan Ramdan memiliki
rasa rendah diri yang para ketika wanita itu masuk ke dalam toko meminta
bantuan untuk membeli minumannya di toko sebelah. Karena
saat itu keadaan toko yang sunyi tak ada pelangan mengujungi selain wanita itu.
Sedangkan Samsul, alan dan lainnya harus
di belakang memasang peralatan yang di kirim secara terpisa seperti misin jahit dan argo kerena mereka memiliki pengalaman untuk itu.
Ramdan mengikuti
saja mungkin ia berfikir bawaan jadi turutinya permintaan dari pelangan sombong
itu. Menyebrangi jalan perhadapan langsung ada toko
sembako. cukup terkenal, hapir di setiap produk ada merek semacam nama toko itu
ABC. Ramdan langsung saja membeli dan
kembali. Awalnya memang sikap wanita
itu Seperti mengangap reme seorang karyawan toko seperti Ramdan.
“Assalamu’alaikum”
salam wanita itu sambil berjalan mendekati meja boss. Dengan menenteng tas putih, yang kemudian di letakan diatas
meja milik pak boss
“Walaikumsam.”
Balas pak boss, Sambil membersikan wanita itu untuk duduk di sebuah kursi kaya.
“pak haji kemana sampai-sampai ade
nona turun berbelanja ini”
“Bukan
saya kesini hanya untuk membayar barang-barang yang perna ayah ambil. Karena
beliau ada sidikit urusan di jakarta, Jadi kemukinan lama balik. Kata ayah setelah
menyerakan amplob ini ke paman, lansung saya menelpon pada ayah dan paman nanti
bicara langsung dengan ayah.” Dia menyerakan amplob itu kepada boss
“Begitu saya yang menelpon lansung saja biar
cepat.” Kata boss seraya
menggambil sebuah hendpone di atas
meja dan memencet tombal-tombol untuk mencari nomor yang di
maksud.
Beberapa menit kemdian Ramdan menyerakan sebotol air mineral di atas meja, beserta uang kembalian dari air mineral yang di belinya.
“Angkat saja kembalian itu.” Saut wanita itu pada Ramdan sambil membuka penutup botol.
“jangan lagi.” Suaranya pelan dari Ramdan. Begitu lah sikap yang rendah di hadap boss dan wanita itu.
“Ramdan ambil
saja jangan sungkan” kata Boss
setelah menutup pembicaraan lewat telepon.
“Makasih nona.”
dengan malu-malu mengambil uang itu.
Sehabis pengurusan dengan pak boss wanita itu langsung pergi dengan kenderainya, mobil putih yang parkir di denpan sejak tadi.
Membunyiakan klason mobilnya petanda dia bergegas pamit dan
tak tahu kemana tujuan!. Keadaan toko menjadi seperti biasanya sunyi sepi di kaya mentari merajang membakar di siang bolong.****
Komentar