sunyi yang hilang part 1
PRIA NASTALWANG Bermula dari kegelisahan panjang untuk saling mengenal, bermain bersama dan sekadar ingin tahu dunia masih begitu hangat terjalani hingga menemukan kecocokan didalamnya, ketika ilmuan belum banyak menemukan sesuatu yang menyenangkan seperti permain dan ketika orang-orang tua belum banyak disibukkan untuk memenuhi permintaan anak-anaknya. Hingga akhirnya terjadi pembandingan besar-kecil, banyak-sedikit dan kaya-miskin dalam ungkapan sehari-hari, padahal kata-kata itu barulah diketahui setelah usai belajar berhitung disekolah. Bila mana masing-masing dari mereka mendapatkan tekanan untuk memperbaiki hidup yang lebih baik. dengan aktifitas dalam kondisi yang berlainan, Sebagai dari mereka menekuni bidang swasta, petani, sebagian lagi harus menempu perguruan tinggi dan memiliki pandangan tersendiri di mata kaum akar rumput. Dalam hal perebutan kedudukan dan kekuasan sebagai upaya penghormatan pada parata sosial. Sebab sebuah gelar yang terpampang di belakan namanya, kata orang sih. Seorang terpelajar atau sebutan kaum intelek muda. Terkadang intelek Muda itu sering sombong dengan apa yang sudah di rainya Lantas kehidupan masyarakat yang selama itu di perjuangkan di masa–masa belajarnya begitu sepat berubah dengan kepentingan dirinya sendiri. Mukin benar kata kaum akar rumput itu. Dulu di katakan pahlawan keperjuangan sekaran menjadi pahlawa keuangan. Pada hal jeritan hati mereka. Janganlah cepat melebur dalam bingkai kesibukan, bila kau memang bukanlah intelek Muda seperti itu. Ajarkan mereka demokrasi selain pemilu. Didik mereka bila selama ini masih tetap keliru. Ubahlah keadaan tertindas dengan sesatu yang baru. PRIA NASTALWANG Namun Di balik mimpi dengan sekuat keyakinan yang masih tersisa. membuka pintuh akan sebuah keinginan keras agar dapat bersekolah di perguruan tinggi. pria ini membuktikan bahwa kehidupan yang di harap-harapkan pranata sosial adalah hidup sama rata sama rasa akan terwujud. tentunya menghapus jejak masa-masa buram. bila mana bintang di langit akan menyenari bumi di malam hari, begitu pula dengan hidup ini. Seperti hal Allah tidak menyanjikan langit selalu biru tetepi Allah menyajikan di setiap badai pasti ada pelanggi. begitulah putra malang seribu pulau dengan senyumnya yang dipandang sebagai kegilaan. canda dan tawa telah menghilang entah kemana, kasih dan sayang telah terkikis. Saat suhu malam semakin dingging di hantam anggin laut. pepohon tak lagi berdiri angku, semuanya kemiringan, panorama malam itu terlihat samar-samar, sampai-sampai sombar tak menampakan wajahnya. Berselimutkan kain pria malang itu duduk di tepi pantai, gelisa menunggu ayah lekas pulang pancing, sedangkan suara air laut memukul-mukul kencang di bebatuan. Wajah muram putra seribu pulau, dengan mengulingkan tembaku ditangan, haranpan Ramdan bercita-citakan menlanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Sepeti anak-anak kampung lainnya yang telah ke kota melanjukan pendidikan mereka. Tetapi semenjak ayah hanya bisa membiayai satu orang anak di antaran dua bersaudara dalam keluarga dengan pendapata ayah itu, Sebagaimana sudah diketahui beban pembayaran yang mahal. Kini dua tahun sudah lulus dari bangku sekolah menengah atas, bila waktu tak terbatas harapan itu tak terkikiskan. Untuk merai gelar sarjana yang sudah semejak lama di idam-idamkan dalam batok kepalanya. Yang pasti, ada satu kedamaian terobatih. PRIA NASTALWANG Kedip kemeran tembaku yang di isap Ramadan terlihan dari laut. ayah kini telah memdaungkan perahu kayu kecilnya mendekat bibir pantai. Beginilah kehidupan masyarakt kei besar, relah menantang maut agar anak-anaknya dapat bersekolah. “Huuuu” saut ayah dengan panjang sebagai petanda, setelah turun dari perahunya dan menarik perahu agar tidak di pulukuli ombak. “Ayah..” balas terik Ramdan setelah membalikan badan lalu berdiri berlari ke arah perahu, kekawarinnya malam itu me “uluh.” teriak lagi ayah dengan pangilan kesayangan untuk anak bungsu dalam keluarga pulau evav “Beta tunggu ayah disini.” “Kenapa tidak di rumah saja, anggin kuat begini jadi dingin” ayahnya memang tak ingin ramdan atau kakaknya mengikuti jejaknya “beta tidak bisa tidur, lalu beta hanya ingin pastikan apa ayah sudah datang apa belum. biasanya ayah pulang begitu tempo.” sambil membantu ayah mendorong perahu keatas permukaan pantai. “Mmh.”ayah mengumang sebelum melanjutkan pembicaran lagi. “Uluh liat ikan-ikan la kumpul masuk di karung.” perintah ayah dengan nada pelan dari muka perahu serta tadi perahu yang di ikat ke kepohon besar.Hasil memacil ayah malam ini tak sepeti biasanya “Iya.” saut Ramdan.Terliat beberapa ikan mereh saja “ayah sampai dirumah katong bakar deh.” tak cukup waktu lama mengisi semua ikan-ikan itu. “iya uluh” sengatan bau amis laut, Disekucur tubuh ayah “uluh nanti ayah bawah” mengabil karung itu dari tangan Ramdan yang terdiam “ nanti uluh punya buju bau amis juga seperti ayah” menaru karung itu dibahunya” uluh. guling ayah tembaku par kasih par kurangi PRIA NASTALWANG dinggin dulu.” Ayahnya inggin ramdan tahu dan mengamati dirinya bawah seorang melaut itu sensara. “Iya ayah” terbatah-bata mengambil tembakau dari dalam kantong celananya. Lalu mengulingnya habir dua menit tembakau gulingan tembakau di tangannya.“ ini ayah” lalu menguling tembakau lagi untuknya. Sepanjang jalan Memang terliat akrap ayah dan anak ini megeluarkan hembusan asap tebal dari mulut mereka. Sedangkan Suara-suara jangkrik di pingiran jalan mengiringi langka sesampai dirumah. dengan ketukan pintu Ramdan mengkomandankan salam “Assalamu alaikum... mah.” Mengejutkan si ibu dari tidurnya.nyaut membalas salam. “walikum salam” pintu mulai di buka si ibu. “uluh kenapa ikut ayah.” Semabri mengikat kain di kepalanya. “Beta hanya menunggu di pantai.” “Tunggu saja di rumah nanti ayah juga kembali.” Pergerakan ibu ramdan ke ayah terus mengambil ikan-ikan di karung itu. “Iya. Mama bikin teh panas satu untuk ayah dulu.” “Bikin dua. Uluh juga dinggi itu.” Sambung si ayah “Mama Nanti bakar ikan lah uluh makan dengan embal itu kayanya tadi di pantai uluh sudah lapar lah dia bilang ikan bakar.”ayah perjalan masuk dalam kamar mandi untuk mengantikan pakian yang basah “Uluh Ko sudah lapar?” tanya Ibu dengan wajah menghadap pada Ramdan. Lalu membuka termos panas dan menuangkan air kedalam gelas. “Iya mama.” Jawab ramdan lalu terdiam. Di depan tungku itu ramdan memasukan setumpuk kayu dan menyalakan api. PRIA NASTALWANG “teh sudah jadi itu”si ibu menyerakan segelas pada ramdan “Panggil ayah untuk minum lekas teh itu dulu keburu dingiin” “Ayah..” teriak Ramdan di balik pintu kamar mandi “Iya uluh.” Dua gelas teh yang di jamu ibu, di habiskan ayah dan ramdan sembari menuggu ikan itu matang di atas tungku kayu. Embal goreng yang di tutupi oleh baskom. Rupanya Sebuah hidangan khas masyarakt kei kembali di letakan ke atas meja makan. Beberapa menit kemudian ikat yang di bakar dengan berbumbuh cili merah dan air yang tercampur garam di taburkan pada atas ikan itu menambah selerah makan saja malam larut. Sedangkan dua ekor ikan di simpan di panci besar ditutupi dengan meletakan batu untuk menindisnya agar tidak cepat terbukah. Ketika sajian makan malam yang di pastikan habis itu. Ramdan memberikan tanggan lalu pergi membaringkan tubuhnya di atas tikar. Kedua matanya di penjam hingga Pagi sudah beranjak mendekati siang. sedangkan Seisi rumah sudah kosong, ayah dan ibu pergi kehutan beberapa jam yang lalu. Di kampong Ramdan tidak memiliki aktifitas lain hanya dapat jalan mengelingi desa. Biasanya ia pergi di sekolah SD untuk meliat adikadiknya belajar. Karena seisi kampong itu tidak ada lagi temanteman sebayanya, semuanya telah meningalkan desa untuk kuliah. Saat liburan kampong itu baru lah di padati dengan gerombolan mahasiswa yang pulang. Langka Ramdan terus naik menjejaki anak tangga satu persatu menuju sekolah SD. Rupanya sekolah di kampong itu berada di puncak gunung. Sebatang kayu di pegang memukuli tumput-rumpu di pingiran janlan. “Ramdan e..” teriak suara yang kencang dari bawah. PRIA NASTALWANG “Huuu” menguman dangan kencang. Pandangannya berbalik ke bawah. “Ko turun boleh.” teriak lagi pria itu Dengan menngaun tangan memangil-mangil “Tunggu” Ramdan balas teriak, kemudian berlari turun.“We samsul” terus berlari mendekalit samsul. “se baru datang kah” Tanya Ramdan dari jalan mungkin sepuluh meter. Samsul melulurkan tangan untuk menjabatang ramdan“Iya.” Jawab Samsul“ tadi beta liat se lewat dari depan rumah. Pas beta Tanya mama katanya se tiap hari lalu lalang di kapung ini kah.”lalu mengajaknya “Katong jalan-jalan kepantai sana.” “Iya. Beta sudah tidak tau lagi buat apa di kampong ini!” kata ramdan. “Jang perna membunu impian mu yang mega itu” iya mengunakan bahasa sang sastra dari ambon yang terkenal itu 8ball “Wee ayah dan mama dong buat apa di rumah kah?” bertanya lagi Samsul “ya seperti orang kampung lainnya kalau jam segini mereka ada di hutan sana.” Jawabnya sambil tertawa. “Sehat to” tanya ramdan lagi “Sehat..” “Jadi begini ramdan nanti beta urus ayah di rumah dulu par sembuh baru beta bicarakan dangan bos di tual supaya se kerja sama beta disana. Jangan perna se batisi diri se untuk terkurung seperti itu. Coba seliat alam sekitarmu ini yang di penuhi pepohonan hijau-hijau apa tetap menjadi milik kita nanti!” pembicaran samsul lalu di putuskan oleh pertanyaan ramdan. “Tadi se binglang, se ayah sakit! Memenya sakit apa?” Tanya Ramdan PRIA NASTALWANG “Beta kurang tau penyakit apa itu.Mama dong pesan di orang saja kalau sakit, makanya beta kawatir lah dating. setelah sudah dirumah baru mala antua bilang lagi penyakit biasa-biasa. Binggung lai tetapi Beta bilang saja besok katong ke kota par berobat di rumah sakit langgur.” “ya Allah. orang tua di kampong ini memang megitu deh. Sakit dong tidak menunjukan. Sam, semoga Allah memberikan penyebukan pada se pu ayah.” “Makasih dan” Samsul mengabil dua bungus roko dari kantongnya.“ ini se satu, se ayah satu beta ada beli satu slop rencana dibagikan untuk orang kampong." “Makasi. Se punya uang sudah banyak itu.” “Hahah. uang mana, Beta kan sudah lama tidak di kampun, setidak kembali itu saya membawah hasil walau sedikit.” jelaskan Samsul. “Oho” (kata penyetujuai saja pembicaraan). Dan kaya beta balik dulu Ke rumah. ada kesempatan malam katong dua lanjut cerita deh. Beta urus hal-hal di rumah dulu, soalnya besok harus ke langgur. “Iya. Se datang tadi itu obak apa tidak!” Tanya Ramdan “Tidak. tado saja. nanti kirim salam untuk mama dan ayah di rumah.” Samsul langsung berjalan. “Iya nanti beta sampaikan.” Samsul berjalan agak menjauh. Ramdan membalikan Pandangan ke tepi pantai, ada beberapa anak-anak yang bermain pecahkan batu, sepertipermainan kehidupan. Batu siapa yang tidak mampu bertahaan akan di pecakan, sedakan yang kuat akan dapat bertahan tergantung cara memilih batu dan melempar kembali pada bebetuan lawan. PRIA NASTALWANG Mengingat masa-masa kecilnya sama seperti mereka. patai itu ramai, dulu. Para bandit-bandit kecil seusai pulang sekolah pasti singga di tepi pantai, bermain Bebatuan, mencari gurita, di kala air laut surut. Main ombak ketika air laut pasang. Sampai-sampai orang tua datang mencari mereka, Kini semua tinggal kenangan. Tak lama kemudian Bell di sekolah desa itu berbunyi, Terdengar sampai ke pantai desa, sorak-sorak para bandit-bandit itu “sudah pulang.. sudah pulang.” keluar dari ruang kelas. meningalkan pintu kelas mereka berlari cepat turun anak tungga tunggi itu. melesat seperti anak-anak pendekar yang terlati keras, serti putra menaluk alam. “Abang Ramdan” teriak lima boca-boca itu serempak dari atas. Sebelum perlari ke arahnya. “hei. Langsung katong pulang sudah.” ujar ramdan dengan hentakan kaki berjalan ke arah perkampungan. “Abang kenapa tadi tidak ke sekolah?” tanya satu boca di antara mereka. “tadi abang ada bicara dengan abngan Samsul disini.” jawab Ramdan. “Abang Samsul ada datang kah? Abang” tanya boca yang satunya lagi, boca tersebut sangat mengenal abang Salmsul karena Rumahnya berhadapan langsung. “tadi kan abang bilang. kalau abang ada bicara dengan abang Samsul. Jadi pasti dia di sini.” Menjelaskan ramdan dengan nada pelan. Dan memegang rambut boca itu. “Huuuu” hura empat boca lain. “Abang kemarin sore beta dan ayah dong ada telpon dengan kaka Esti di gunung.” ucap boca satunya adik Aresti. PRIA NASTALWANG “Ehm.” mengumam boca-boca itu. Sambil memdorong di antara mereka. “Cinta.” teriak boca yang tubuhnya lebih kecil. Lalu berlari. Untuk sesaat Ramdan tersipu sipu malu yang di tunjukan dihadapan boca-boca itu. Tingkanya mulai aneh, ia berjalan lebih cepat meningalkan mereka. “Abang Ramdan tunggu.” teriak adik Aresti, dihiraukan Ramdan. Boca itu berlari mengiringi langka Ramdan. “abang tunggu te.” “Abang sudah paling lapar.” Alasan ramdan padanya. “iya sudah abang” teriak boca itu. Sedangkan ramdan terus-terusan perjalan. Setibah dirumah menggambil makanan yang ditutupi diatas meja sedankan dibenaknya terdapat sepenggal perasaan akan arti hidup. tentang bagaimana cara hidup untuk menghidupkan kesepian hati. ada cinta namun pergi dan ada rindu yang melekat namun bersekat. Seperti lautan. menjadi cermin kenangan. kisah cinta dua sejoli di banku SMA. Kini Aresti telah kekota untuk menlanjutkan study-nya. Kenapa disetiap kerinduan berada pada jarak? Sebab bagi meraka yang menunggu tersikap sepi menghukumi hati, dan belum tentun Aresti dengan kehidupan kota mampu setia sepertinya. Terpisa ruang dan waktu, cinta akan berguguran satu persatu. Begitulah cinta bagi Ramdan keiubun adalah imajinasi yang tak terbatas, begitulah caranya ia mencintai seseorang yang telah lama pergi. Biasanya ia menghabiskan perenungannya di kotak tecil berwana butih pUdar (kamarnya). Makanan itu di habiskan tanpa menikmati, ia berjalan masuk dalam kamarnya membarikan tubuhdi atas tikar, bila mana anggin secuk berhembus dari jendelah yang terbukah besar itu, siapa pun tak PRIA NASTALWANG tahan matanya. setelah terbukah kembali matanya waktu sudah hampir makrib. Ayah dan ibunya sudah pulang dari kebun. Ibu di depan tungguku memanaskan air untuk membuatkan kopi malam. Ramdan keluar dari kamar lansung melaka masuk ke dalam kamar mandi, lalu menguji dari dalam. Sekitar lima belas menit ia kembali keluar. Mengunakan handuk serta badan yang masih basah, kembali masuk kamar dan berganti pakaian sebelum keluar lagi. “Mama. Tadi beta bertemu Sam dijalan, dia baru dari tual. katanya ayahnya sakit. lalu dia ingin membawah ke rumah sakit di tual.” “Sam pu bapa sakit apa? Perhatian anak itu kepada orang tuanya paling sunggu muliah. Ramdan lihat samsul itu kalau bisa tiru sikap orang seperti itu.” tanganpan ibu. “tidak tahu juga sakit apa. Dia juga tadi memberikan roko pada ayah.” Langsung saja meletakan roko itu di atas meja. “Wee. sedikit lagi mama pigi liat dulu. Nanati uluh o jaga rumah deh.” Memegang sebuah kelas yang di isi air panas. “Iya. Mama tadi Samsul juga ajak beta kerja ditoko bosnya” “Allhamdulillah, tapi nanti Uluh bicarakan dengan bapak dulu deh “Iya. Tapi belum pasti juga katanya nanti dia sudah di tual barulah dia bicarakan dengan bosnya. Kalau jadi nanti Baru dia titip pesan di orang lah beta ketual supaya langsung kerja saja.” “Iya bagus itu.” “Uluh ingin kerja apa?” tanya ayah yang keluar dari kamar. Masih menyarungkan kain solat. “Sam tadi tawar beta kerja.” “Ayah dengan Ramdan dirumah dulu. Mama pergi di Sam punya mama dulu. Sekalian liat om Din. besok mereka sudah ke tual untuk PRIA NASTALWANG berobat. Nanti ayah ikut mama deh!” tergesah-gesah menyarungkan ikan kepala. “Kirim salam saja, ayah pu badan masih cape” jawab ayah serta mengerakan ke dua bahunya dan memutar-mutar kepalanya. “Iya. Assalamu Alaikum” menyarungkan sendan di depan pintu “Ramdan kasih mama senter boleh” menjuk senter “hoy ma” teriak ayah. Untuk memberikan sencer “Kenapa ayah” saut ibu. Ramdan langsung mengabil senter yang tergantung disampingnya, Lalu keluar menyerakan kepada si ibu. Kemudian masuk lagi. Dan duduk di tempat yang sama. “uluh sudah ingin beterja ini kah?” tanya yang kedua lagi ayah “Beta ingin kerja untuk dapat bantu-bantu ayah dan mama. Ayah Sam ada berikan roko untuk ayah.” Di angkat koko tersebut dari kantongnya. “samsul sudah punya banyak uang kah apa!” ayah duduk pada sebuah bangku mejah dapur, tangan mengambil cakir yang terisi kopi di dalamnya lalu di tekuk dua kali selapas melanjukan pembicaran “Uluh sebernanya ayah belum bisa jauh dari se dan kaka wahyu. Sejak kalian berdua SMA di tual ayah rindu kalian terus. Uluh di sini itu mengobati ayah punya kerinduan untuk kaka wahyu. Tapi ayah belum penhi permintaan yang se tulis di pintu kamar itu. Ayah berharap se kerja untuk kuliah saja jangan bantuh ayah dan mama lagi katong pasti baik-baik saja di sini. Ayah lihat tulisan yang se tulis dipintu kamar itu nampak memudar. Walau pun ayah berat untuk terpisah dengan kalian berdua ayah ingin lihat kalau banci dan kuali itu, bisa di ganti oleh kalian.” perkataan itu berat bagi ayah melawan hatinya. “Ramdan terdiam hanya menganguk-anguk kepalanya.” PRIA NASTALWANG meski-ayah perna berjaji kepadanya. “ayah adalah petani kopra yang pada dasarnya sendiri, tak mungkin memikul dua karun kopra yang beratnya 75 kg secara bersamaan, biarkan ayah membawa satu dahulu nanti keesokan harinya, barulah ayah membawa satunya lagi. ini sama halnya dengan kalian.’’ Ayah sedikit mengunakan perbandigan. “Ramadan. kerja ingat bahwa. Hira ni afa in dok fo i’ni deh. Ujar ayah dengan filasofi kei mengandung maksud orang punya hak itu biarkan tinggal tetap jadi hak mereka “Iya ayah.” Ramadan mengangguk kepalanya lagi Ayah dan anak itu duduk berhadap-hadapan. Terkagum-kagum mengakui kehebatan yang dimiliki ayahnya,Walau hanya tamat sekolah dasar. terkadang sifat yang ditujukan ayah agak premental kepada likungan. Tetapi pemahaman yang di ajarkan untuk ramdan itu lebih dari seorang prof sekalipun. beberapa kali mendengar kejadian sidang adat ayah dengan lantang menyampaikan pendapatnya tanpa memandang bulu harus melindungi siapa entah keluarga dekatatau kah orang yang tak dikenalnya. Sehingga ayahnya menjadi buah bibir orang banyak karena budi pekerti yang dimilikinya.
Opini
Komentar