sunyi yang hilang part 4

    PART 4


Waktu itu pun tak menyangka, Hari berganti begitu cepat. Kini sebulan selepas jam kerja, ada sekitar lima orang yang menungu giliran nama yang di panggil Pak boss untuk memberikan gaji. Awal mereka sudah merencanakan dari sebelum-sebelumnya untuk pergi ke salah satu warung makan terdekat. menikmati hasil upaya mereka nanti ketika hari peneriman gaji itu tiba.

Seperti biasanya Ramdan dan Samsul pergi secara  persamaan sedangkan tiga orang teman lain menyusul dari belakang. Di tengah perjalanan Tiba-tiba saja hp Samsul berdering, sebuah pesan masuk dari Alan ponakan pak boss. dia juga ikut kerja di toko. Pesan itu menyampaikan bahwa mereka menugu di warung Saraba tempat yang perna Samsul ceritakan pada Ramdan.  Samsul kemudian mempercepat laju kenderaan terlihat dari kejauan dua motor-motor milik temannya pakiran tepat depan, berjajaran  dengan kendaraan lainnya di garis-garis yang sudah di sediakan  kemudian samsul menyesuaikan barisannya.

Mereka berjalan menyelusuri sebuah taman terlebih dahulu sebelum masuk ke warung Saraba itu, suwasana ramai gerombolan pengujung sedang asik bercincang dengan topiknya masing-masing. Mereka menghampiri mejah yang di duduk oleh tiga teman disebelah belakang. Setiba saja lasung diminta oleh alan untuk memesan  yang ditulis agar seterusnya Alan menbawah kemeja kasir, Selepas itu Alan balik lagi. Sedangkan mereka berlima Bercerita dengan topik yang tidak tentu kadang candah, kadang mengagumkan, kadang pertanya. Ketika Berberapa menit berselang cerita itu di putuskan sesaat dengan sajian beberapa menu di atas meja, ada tahu goreng, pisang goseng.  ubi goren, serta minum jeruk, teh es manis, minuman sajian saraba dan kopi hitam. Jeda Cerita kemudian di lanjutkan sampai arah jam Tepat 12.00 wit. Sudah larut malam. Waktu seakan membatai mereka karena keesok hari harus melanjutkan perkejan di toko, Memastikan semua sajian menu di atas mejah benar-benar habis sebelum mereka pulang ke rumah masing-masing.

Sedangkan ramdan dan samsul singga di satu warung membeli sate untuk bi sari dan kedua penakannya. Saat itu hujan gerimis turun. Setelah tiga bukus sate itu di berikan kemudian samsul menyalakan motor untuk melanjutkan perjalanan pulang. Gerimis kembali berubah menjadi besar. Tepat Disebuah halte kendaraan itu di matikan tiba-tiba mereka meliat seorang wanita berjalan di derasnya hujan menujuh sebuah rumah. wanita itu seperti mereka perna melihatnya. Ketika mengigat perempuan itu. Perna datang ke toko, perempuan itu juga yang menyurunya membeli air mineral.

Ramdan dan samsul bertanya-tanya satu sama lainya. Tibul beberap bertanya di balok kepala mereka, sebenarnya ramdan inggin menghampiri wanita itu, namun samsul katakana “jangan se paksa pawalan tengah malam.” sebab katanya nanti di angap cari-cari perhatian saja. Ramdan pun merenung beberap pembicaraan dari samsul di acukan begitu saja. Samsul tak tega melihat ramdan seperti itu, dia mencoba mengala demi temannya ini. menyerakn kunci motor pada ramdan.

“dan beta tahu untuk pertama kalinya se bawah motor sedirian tanpa beta di belakang setelah beberapa minggu ini se perlati beta rasa cukup, se bisa sendirian tanpa beta harus di belakan. Saat ini beta yakin se punya tujuan baik, hati se baik pasti kebaikan akan melindungimu.” Samsul menepuk bahunya. Lanjut berkata “dan tangkap kesempatan itu.”

“Ah tidak samsul beta pergi tanya dia dulu kenapa malam-malam kehujanan nanti beta balik kesini lagi. Beta memastikan dulu apa benar nona waktu itu atau bukan.” Kemudian kunci motor itu di serakan kembali.

“Begitu iya sudah” ramdan mengatur gas berlahan-lahan, dengan tekat mukin tindakan mengalakan rasa takut untuk mengemudi sendiri tanpa mengawasan dari samsul.

Setelah kendaraan mendekati wanita itu. Ramdan dengan sok akrap. “Maaf nona.” sapa ramdan tanpa di balas wanita itu hanya menole muka sejenak padanya. Lalu ramdan mencoba menjelaskan padanya “nona masih ingat sama beta tidak! perna nona ke toko kan sekitar dua minggu yang lalu dan perna menyuruh beta membeli air minun. Nona juga perna memberikan uang sisa air pada beta masih inggat!” wanita itu masih diam saja ramdan pun melanjutkan lagi penjelasanya “beta dan teman meliat nona dari sana. Mukin nona perlu bantuan katong dua siap. Mukin nona berlu kerdaraan untuk mengantar pulang beta dan teman juga siap.” Akhirnya tawaran-tawan itu pun di terima oleh wanita itu.

“antar beta ke BTN” ramdan menatap mata wanita itu agak kemerahan sepertinya baru mengeluarkan air matanya.

“Begitu nona tunggu saja di sini beta ke taman dulu.” Ramdan menarik nafas lega akhirnya suara peremuan itu keluar juga.  Motor di arahkan langsung berputar ke arah samsul.

“Sam se tolong antar dia dulu. Kaya dia lagi menagis itu.” Begitulah tawaran ramdan pada samsul

“Dan bukan beta menolak. Se saja yang antar deh.”  

“Begitu motor dinyalakan.” Ramdan cobah memberanikan diri saja. Mesin motor itu kembali di nyalakan olehnya mengatur gas belan pelan naik seteh jalan.

Setelah perempuan itu naik duduk dibelakan motor, mereka pun menerobos hujan malam itu. Sunggu suasana dinggin mengetarkan tubuh-tubuh mereka, tak ada bahasa yang keluar di antara mereka, membuat keadaan itu tambah sepi dan sunyi. Tak tampak satupun kendaraan yang lalu-lalang, mukin saja para pengendaran sudah tidur terlelap di rumah karena hujan yang turun membatasi semua aktifitas malam, apa lagi hari sudah larut malam.

Di persimpangan jalan dekat dengan perumahan BTN, wanita itu menepuk bahu ramdan secara cepat sehingga ramdan memberhentikan kendaraan tanpa berkata apa pun wanita itu langsung berjalan menyelesuri sebuah lorong gang depan yang berada di depan jalan, mukin keadaan hatinya kurang menyenagkan, sedangkan ia kebingungan melihat tingkah wanita itu nyaris ia memperhatikan lamgkah wanita itu tetapi hujan itu seakan-akan menghalangi pandangannya.

Memutar kendaraan menuju halte setelahnya mengambil samsul kemudian mereka melanjutkan perjalanan pulang dengan keadaan basak kuyut sesampai di rumah, dan dingin yang mencengramkan tubuh-tubuh mereka, lalu membuka pintuh dengan kunci seref yang ia bawa. menuju dapur membakar sebuah kompor untuk menyiapkan air panas. Agar dapat mereda didingin yang mengigil itu. Dan terus mengambil dua lembar pakian satu di serahka kepada samsul.

“malam ini beta tidur dengan se saja” ujar samsul setelah pakaian itu di ganti.

“Iya” jawab ramdan. Tiba-tiba mereka terkecut dengan perkataan bi sari

 “jam berapa ini.Setelah berjalan ke dapur, lalu melit samsul duduk di sebuah kursi.

“Suda dekat jam dua ini bibi” jawab ramdan. Jedah cukup lama “bibi beta ada taru makanan tutup dengan baskom itu.”

“iya” jawab bi sari. Sebelum berbicara lagi. “Bilang samsul tidur sama se saja, besok baru dia pulang. hujan besar itulalu membuka baskom.

“Ia bibi. Jawab samsul singkat, kurang enak terhadap bi sari sebab malam-malam begini sudah mengangu.

Sehabis meminukan air hangat teh, tubuh mereka seakan tidak inggi bergerak lagi, beralas tikar, berselibut samrai. mereka  tidur terletap sampai keesokan paginya.

Sayup-sayup kedengaran suara dari usman untuk membangunakan ramdan dan samsul. “Abang...abang... tidak pigi jaga toko kah!” usman mengerakan kedua tangannya di bahu kiri ramdan.  Sebelum mata mereka terbukah.

“Hmm sudah jam berapa ini usman” gumamnya dengan mata yang masih meram.

“Jam delapan lewat abang” jawab usman. Mengagetkan ramdan.

“Mati banya.” Mengarakan tangang untum bengunkan samsul. “sul- samsul bangun sudah” samsul membukah matanya. Barulah ramdan berjalan dengan cepat ke kamar mandi.

Lekas lekas berganti keluar pintu kamar melihat samsul duduk dengan air bertitik wajahnya. Matanya masih belum terbuka sepenunya. Lalu menarik samsul untuk lekar benujuh toko,

“Cepat awas katang terlambat ini.” Ujar ramdan dengan kekawatiran Kekawatiran

“Tidak apa-apa jang kawaitr! Se yang mawah mator sudah.” Samsul menangapai pembicaran ramdan dengan santai. Seakan tidak mengkawatikan waktu yang sudah terlambat itu. ya mukin dia lebih berpengalaman untuk menghadapi boss, dan punya jujur yang ampu. Lalu dia terus berjalan ke kamar mandi untuk mambasu muka.

Ramdan menuggu di atas motor, dengan keresaan sabab iya tak perna di marai boss sebelumnya. “sam....” sampai ai berterian begitu.

“Iya” jawabnya singkat. Jeda panjang sampai di tegah perjalanan. Gasmotor di turunkan perlan-pelan. “ramdan bakar roko boleh. asik ini! Beta ada bilang dari tadi.” membakar roko yang di ambil dalam kantong celanya. Samsul pikir kejadian terlambat itu biasa-biasa saja, baginya sesekali terlambat ya mukin di maklumi.

“He se bilang dimana?” sautnya ramdan dengan kereranan. Iya agak sedikit sensitif menangapi pembicaraan samsul itu.

“Wee se saja yang tidak dengar itu.” Katanya sambil canda. “se takut dapat marah dari boss kah apa!.” Samsul menebak keresahan ramdan juga.

“Iya.”

“Ala jang takut. Kita tidak membuat pelangaran apa-apa, selama ini kan mengikuti peraturanya lalu ketika boss memberikan gaji pada kita ya harusnya kita menikmati gaji yang di berikan itu toh. Pasti boss memahami.”

“Oh kah! Se paling memahami boss dari beta. Akhirnya saya bisa tenang. Begitu bakar roko bar beta lai kah.” Kekawatiran ramdan mulai berkurang. Terlambat beberapa menit itu tak membuat boss harus murka kepada mereka, karena mereka di kenal baik dan disiplin dalam bekerja. Rasa pengertian di antara rekan-rekan toko juga sangat kompak. apa lagi samsul kan karyawan yang berprestasi. Untuk semua hal di toko dia lebih menguasai di bandingkan boss. Sabab samsul adalah karyawan satu-satunya yang bertahan semenjak dulu bekerja sama almarhum ayah boss. Setelah kepergiannya boss tua, baru lah toko itu di kelolah oleh boss muda.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gempa Maluku Tanggapan Menteri Polhukam

Lagu Gugusan Kepulauanku

Contoh surat pelepasan tanah