Penulis itu Pendekar

 _Penulis itu Pendekar_

Oleh : Rahmatia Tamher (Aktivis BMI dan member AMK)



Aku terkagum kepada mereka, yaitu orang-orang yang tak pernah senggan menghadapi mesin ketik lalu menarikan jemari lihainya hanya untuk menuangkan suatu beban yang ada dipikirannya, atau mereka yang berani menggoreskan tinta kelas diatas helaian putihnya kertas hanya untuk menuangkan buah pemikirannya..

Aku iri pada mereka yang bisa melahirkan sebuah karya lalu menjadi terkenal hanya gara-gara jemarinya yang tak kenal lelah menari merangkai huruf menjadi kata, merangkai kata menjadi kalimat, merangkai kalimat menjadi paragraf, menjadikan paragraf demi paragraf terhubung satu sama lain. Sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh lalu menjelma menjadi sebuah buku.

Aku ingin seperti mereka setelah tahu

"Mereka menulis bukan sekedar menulis, mereka merangkai kata bukan sekedar merangkai dan bekerja keras bukan hanya sekedar mencari eksistensi diri agar diakui hebat sebagai orang pandai yang melahirkan karya".

"Menulis itu berbagi, menulis itu mengajak, menulis itu dakwah, menulis itu menyadarkan fikiran ummat".

Jika dorongan menulis hanya dengan kemauan, kalau kami tak mau ya kami akan berhenti.

Jika dorongan menulis hanya karena ingin terkenal setelah kami berusaha menjadi orang terkenal tetapi nyatanya tidak demikian, kami akan menyerah lalu berhenti menulis.

"Menjadi penulis harus ada dorongan kesadaran dari dalam hati, menulis adalah keikhlasan, menulis berarti berjuang. lah bagaimana tidak menulis itu, butuh pengorbanan waktu menuangkan pemikiran, tak boleh kenal kata lelah karena disinilah ranah perjuangan para pujangga menggoreskan pena sama halnya dengan mengayunkan sebilah pedang, memegang buku sama dengan halnya mengenggam tameng baja. Kemalasan bukan sesuatu yang bisa menghalanginya untuk berhenti. karena "berhenti sama dengan menyerah sebelum bertarung".

Ada sebuah kekuatan dibalik kuatnya mereka, siapakah itu?? Allah dan Rasulullah Saw. Motivator terbaik mewujudkan mimpi, inspirasi terbaik menghidupkan misi.

"Mati mulia adalah mati dalam keadaan syahid". Teruslah libaskan pena kita yang bagai pedang itu. Teruslah pegang buku yang bagai tameng itu. Karena mau tak mau Allah sudah mewajibkan kita untuk saling beramar ma'ruf nahi Munkar.

Memerangi pemikiran mereka yang telah terkontaminasi oleh jahatnya pemikiran sekuler-kapitalis dan materialistis-komunis, sayangi mereka bantu mereka untuk sapu bersih pemikirannya kembali, lalu asupi pemikirannya dengan pemikiran Islam yang murni. Teruslah menulis, karena menulis itu jihad. Jihad para pujangga ditengah maraknya pemikiran jahat yang menggoroti kepala-kepala saudara kita. Inilah jihad kami, menulis karena dizaman ini adalah zaman ghazuwatul fikr (perang pemikiran).

Menulis bukan sebuah pekerjaan berat yang membutuhkan banyak tenaga. akan tetapi menulis adalah pekerjaan yang ringan dan tidak harus dikejar-kejar waktu, seperti pekerjaan kantoran atau seperti karyawan pabrik. 

Menulis bisa dilakukan oleh orang yang fisiknya lemah atau orang yang memiliki sifat pemalu sekalipun (seperti saya🤭)

Dikatakan oleh Rian Hidayat el bantanny didalam bukunya Inspirasi mengukir prestasi Islam "Jangan pernah anggap enteng selembar kertas dan sebatang Pena. dari benda-benda ini, kita bisa menghasilkan karya besar atau sekedar tulisan ringan nan sederhana.

Jadi, bersyukur jika kita disibukkan dengan banyak aktivitas.

Pertama, tidak akan ada istilah mati gaya, karena ngga punya rencana.

Kedua, ini bukti kita dimampukan Allah untuk bisa berkarya dan bermanfaat untuk orang lain.

Ketiga, bukankah ini kesempatan emas kita mengumpulkan pahala meskipun sekedar menuliskan sebait pengingat tentang haramnya bergunjing ? Ingat tidak ada pahala yang remeh dimata Allah, karna sebesar biji zahrahpun akan diperlihatkan balasannya.

Oh mungkin karena alasan capek ? 

Okey, mungkin kita butuh Istirahat.

Istirahatlah sejenak, itu tidak akan membuatmu tertinggal, tapi jangan engkau berhenti untuk menulis.

Atau dengan alasan ini..

"Udah capek-capek nulis, tapi nggak ada yg respon-respon.

Okey.. berarti itu, menulisnya belum ikhlas karena Allah.

Karena kalau kita menulis dalam rangka dakwah, benar-benar ikhlas karena Allah, kita tidak akan terpengaruh dengan penilaian orang. Tidak menjadi bangga diri saat dipuji, juga tidak sedih, marah atau kecewa saat tidak ada yang mengubris atau memperhatikan tulisan kita.

Respon pembaca itu adalah hasil yang tidak bisa kita kontrol. Ranah kita adalah pada point ikhtiar. Berusaha menyampaikan Islam melalui tulisan, dengan cara yang ma'ruf, menyampaikan yang haq itu haq, yang batil itu batil. Selebihnya, berserah pada Allah. Karena sungguh, hidayah itu adalah hak prerogatif Allah. Jangan kira saat ada pembaca yang tersentuh dengan tulisan kita, itu karena tulisan kita bagus. Faktanya, tulisan yang jauh lebih bagus dari kita banyak bertebaran di luar sana, tapi, itu semua terjadi tidak lain atas izin Allah, bahwa tulisan kita menjadi perantara turunnya hidayah Allah.

Coba kita flash back lihat sejarah gemilang pada masa dulu, dimana hasil karyanya masih kita nikmati sampai sekarang.

Katakan saja Imam Bukhari menulis shahih bukhari selama 16 tahun. Imam Muslim menyusun Shahih Muslim selama 15 tahun, Ibnu adb al Bar at tahmid selama 30 tahun, dan masih banyak lagi karya-karya para ulama dan orang-orang hebat yang fenomenal pada masanya yang sampai sekarang bisa kita nikmati dan kita lihat.

Para ulama itu mereka menulis dengan tangan, alat tulis serba sederhana. Tanpa cahaya lampu listrik, semangat dan Ikhlas inilah modal utama yang mereka imani.

Tidak seperti kita yang berada dimasa Milenial modern saat ini, betapa mudahnya mendapatkan informasi hanya duduk diperpustakaan atau lewat internet, kita sudah mendapatkan Ilmu dan informasi.

Tidakkah kita malu ?? jadi, Ayo Kita Menulis !!🙃

(Keep Semangat👍💪)


Wa'alahu a'lam bish-shawab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Gempa Maluku Tanggapan Menteri Polhukam

Lagu Gugusan Kepulauanku

Contoh surat pelepasan tanah