Surat cinta untuk walikota Tual
SEPUCUK SURAT KAYANYA
Asslamu’alaikum
Salam silaturahim semoga Bapak tetap dalam lindungan Allah SWT. hingga nantinya terpilih mejadiwalikota kita. amin
sebenarnya tidak layak dengan menulis seperti ini pada media masa, hingga membawa penafsiran dari berbagai kepala yang datang pada beta. teman dan kerabat yang tahu maksud dari beta menulis ini bukan untuk mencari perhatian dengan mengibah air mata yang berguyur atau hanya ingin menumpang nama besar.
ingin rasanya untuk bertemu langsung dengan bapak. duduk bercerita sembari minum secangkir kopi bersama, lalu bercerita tentang kekayaan yang berlimpa rua di negeri ini. tapi beta sangat pahan bapak tak punya cukup waktu untuk sekedar duduk besama beta, mahasiswa ekonomi, pejuang kehidupan yang hanya bercita-citakan lulus dengan gelar sarjana.
di hari ini merupakan hari yang cukup melelakan bagi beta. memang semua berjalan seperti biasa, bangun pagi bersiapan kuliah kemudian pulang pada sore harinya. tapi yang mumbuat lela entah apa yang kupikirkan adalah ketertarikan untuk membahas CINTA. boleh kah itu di pak! karena bapak, beta dan rakyak juga mencintai negeri kecil ini. negeri dimana katong di besarkan, tempat kembali setelah lama pergi sejauh
dengan begini pak ingin menumpakan CINTA-CINTA pada seluruh lapisan masyarakat meski kadang CINTA itu menyakitkan, beta perna juga merasakan sakitnya CINTA yang patah ditengah jalan, belajar dari pengalaman abal-abal itu. rasanya tak ingin memberikan sakit yang sama pada orang lian. Bahwa disini ada jutaan rakyant yang menangis, disini ada jutaan rakyat yang meminta, disini pula ada jutaan rakyat yang membisu. Senyum telah diubah menjadi kemungkaran. Canda dan tawa telah menghilang entah kemana. Kasih dan sayang telah terkikis habis oleh kebencian. Demokrasi telah berlumut darah dan air mata.
padahal rakyat membutukan demokrasi lesain pemilu, didiklah pemudah-pemudinya yang selama ini masih keliru. ubalah sesuatu hal salah dengan yang baru. pak, beta tidak bermaksut memgurui, ilmu dan pengalaman beta masih sejingkal apa bila duduk bersama bapak. beta hanya ingin berpendapat, dan masih tentang CINTA. hingga saat ini beta harus memohon terhadap pak, untuk harus mendengarkan dari keterwakilan harapan pemuda-pemudi yang ada di negeri ini, menyimpan suara-suara sumbang yang ditulis merusak pemandangan di tembok-tombok jalan. TERSERA SIAPA YANG MEMIMPIN NANTI YANG PENTING PERHATIKAN SEMUANYA JANGAN HANYA MARGAMU.
Pada akhirnya senyum tidak bisa diubah menjadi kemungkaran, canda dan tawa tidak bisa menghilang kemana-mana. Kasih dan sayang tidak bisa terkikis habis oleh kebencian. Demokrasi tidak berlumur darah dan air mata.
tabe hormat. Anwarudin Ingratubun
Komentar